
Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mencatat bahwa dari sekitar 20 ribu izin edar jamu yang telah disahkan di Indonesia, hanya 71 produk yang berhasil naik tingkat menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT).
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengungkapkan hal tersebut saat memberikan kuliah umum di Universitas Andalas, Padang, Jumat (6/2/2026).
"Obat asli Indonesia yang dikembangkan dari berbagai produk obat bahan alam ada sekitar 20 ribu izin edar jamu yang sudah disahkan. Namun, sayangnya yang naik tingkat menjadi OHT baru 71 produk. Jumlah ini sedikit sekali," ungkapnya.
Hanya 20 Produk yang Berhasil Jadi Fitofarmaka
Dari 71 produk OHT yang ada, hanya 20 di antaranya yang telah naik ke tingkat fitofarmaka, yaitu obat tradisional berbahan alam yang terbukti keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik dan klinik.
Menurut Taruna, potensi pasar dari obat asli Indonesia sesungguhnya sangat besar.
"Jadi, ini merupakan potensi yang besar. Bahkan, tim kami mengalkulasikan bahwa potensi pasar untuk obat asli Indonesia itu nilainya mencapai Rp350 triliun," ia mengungkapkan.
Namun, berdasarkan data terakhir, nilai ekonomi obat asli Indonesia pada tahun 2025 baru mendekati Rp2 triliun.
Taruna menyebut bahwa Indonesia harus belajar dari China dalam pengembangan obat herbal.
"Kita harus belajar banyak dari China, apalagi dengan jumlah variasi tumbuhan di Tanah Air yang begitu banyak. Seharusnya kita bisa expand," ujarnya.
Ribuan Tumbuhan Obat Asli Belum Dimanfaatkan Optimal
Ia menjelaskan bahwa dari sekitar 40 ribu bahan baku obat dari tumbuhan di dunia, hampir 31 ribu spesies berada di Indonesia.
Potensi pengembangan obat herbal asli Indonesia, menurut Taruna, bisa dilakukan melalui proses bioaktivasi terhadap berbagai jenis tumbuhan lokal.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pohon kina yang dikenal efektif dalam pengobatan malaria.
Indonesia memiliki banyak pohon kina, tetapi ekstraknya tidak diproduksi dalam negeri.
Sebaliknya, ekstrak pohon kina justru dikirim ke luar negeri dan kemudian diimpor kembali ke Indonesia dari negara seperti Jerman dan Belanda.
"Sebagian yang diimpor dari Jerman dan Belanda itu adalah pohon kita. Indonesia mengirim keluar negeri seharga Rp15.000 per kubik, kemudian kembali ke Indonesia sudah jutaan. Ini seharusnya dihilirisasi di negeri ini," ujar Taruna.
Ke depan, ia menekankan pentingnya pemanfaatan potensi bioaktivasi alkaloid dari berbagai jenis tumbuhan bahan baku obat di Indonesia.
Ia juga mendorong agar kerja sama antara BPOM dengan perguruan tinggi, khususnya Fakultas Farmasi, dapat ditingkatkan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
- Penulis :
- Arian Mesa








