Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Komisi VII DPR RI Desak Kemandirian Industri Susu Nasional, Impor Masih Dominasi 80 Persen Kebutuhan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Komisi VII DPR RI Desak Kemandirian Industri Susu Nasional, Impor Masih Dominasi 80 Persen Kebutuhan
Foto: (Sumber: Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, usai melakukan kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Frisian Flag Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026). Foto: Ysm/Karisma.)

Pantau - Komisi VII DPR RI mendorong pemerintah untuk mempercepat kemandirian industri susu nasional menyusul tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor dan rendahnya tingkat konsumsi susu dalam negeri.

Ketergantungan Impor Tinggi, Produksi Lokal Belum Maksimal

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menyampaikan hal tersebut dalam kunjungan kerja spesifik ke PT Frisian Flag Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

"Permintaannya dengan produksinya masih ada gap tinggi. Sisi lain juga ada tantangan raw material ini diproduksi dan tempat produksinya itu," ungkap Chusnunia.

Saat ini, konsumsi susu Indonesia hanya mencapai 16,6 liter per kapita per tahun, jauh di bawah standar FAO sebesar 30 liter per kapita.

Dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia tertinggal cukup jauh—Malaysia mencatat 50,9 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 20,1 liter per kapita per tahun.

Lebih dari 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor, dengan populasi sapi perah dalam negeri sekitar 541 ribu ekor dan produktivitas rata-rata hanya 10–15 liter per ekor per hari, masih jauh dari standar global 25–30 liter.

Perlu Dukungan Teknologi dan Pemberdayaan Peternak Rakyat

Chusnunia menyebut kondisi ini sebagai peluang strategis untuk memperluas lapangan kerja, khususnya melalui pemberdayaan peternak lokal.

Namun, ia juga mengakui adanya tantangan geografis, karena sapi perah idealnya hidup pada suhu 15–16°C, sedangkan wilayah bersuhu dingin di Indonesia sangat terbatas.

Meski demikian, muncul harapan melalui rencana pemerintah mendatangkan jenis sapi perah baru yang lebih adaptif terhadap iklim tropis dan bisa dibudidayakan di dataran rendah.

Komisi VII mendorong Kementerian Perindustrian untuk menyediakan pelatihan teknis, pendidikan, dan dukungan alat kepada peternak agar kualitas susu yang dihasilkan memenuhi standar industri pengolahan.

"Peternak lokal harus diberdayakan agar bisa menghasilkan susu segar sesuai kebutuhan industri," tegas Chusnunia.

Komisi VII akan menjadikan penguatan industri susu nasional sebagai fokus pengawasan ke depan, dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri.

Tujuannya adalah menciptakan sistem produksi susu yang kuat dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat dalam negeri.

Penulis :
Aditya Yohan