Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Nahdlatul Ulama Genap 100 Tahun, Rayakan Abad Pertama dengan Mujahadah dan Kegiatan Sosial

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Nahdlatul Ulama Genap 100 Tahun, Rayakan Abad Pertama dengan Mujahadah dan Kegiatan Sosial
Foto: (Sumber: Ilustrasi. Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa..)

Pantau - Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad versi kalender Masehi pada 31 Januari 2026 sejak didirikan pada 31 Januari 1926 yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H.

NU sebelumnya sudah memperingati satu abad versi Hijriah pada 7 Februari 2023 (16 Rajab 1444 H) dan kini PBNU serta pengurus daerah merayakan melalui pertemuan akbar, mujahadah, istighatsah, dan kegiatan nyata di masyarakat.

Eksistensi dan Dinamika Organisasi

Sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis agama, NU telah eksis selama satu abad dengan pengikut mayoritas di negara dengan lebih dari 286 juta jiwa dan mengalami dinamika sesuai perubahan setting sosial politik.

Pertanyaan muncul tentang potret NU pada abad kedua, apakah akan terdistorsi atau muncul sintesa dan metamorfosa baru, ungkap pengamat.

Perbandingan dengan Organisasi Lain

Sebelum menilai NU, dapat dilihat organisasi lain baik berbasis agama maupun non-agama, misalnya Freemasonry yang didirikan 1717 bergerak di bidang filantropi dan persaudaraan sosial, Sangga Budha di India Utara, Gereja Katolik, Ihkwanul Muslimin di Mesir, Ikhwanus Shofa di Zaman Abbasiyah, Muhammadiyah di Indonesia, dan Hamas di Palestina.

Organisasi masyarakat non-profit tetap eksis jika mampu menjawab kebutuhan anggotanya, yang menurut teori Abraham Maslow meliputi kebutuhan fisik, keamanan, dan aktualisasi diri, serta menurut McClelland meliputi prestasi, afiliasi, dan motif kekuasaan.

Teori Taylor yang menekankan motif ekonomi melalui insentif upah dinilai kurang cocok untuk organisasi akar rumput berbasis keagamaan seperti NU, yang lebih menekankan aspek teologis dan sufistik dalam dakwah Islam ke Nusantara, berbeda dengan pendekatan Islam di Barat yang berfokus pada sains dan teknologi.

Dakwah sufistik di Nusantara membawa nilai dan pendekatan yang disampaikan oleh tokoh seperti Al-Ghozali.

Penulis :
Ahmad Yusuf