Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

KKP Targetkan Swasembada Garam 2027 dengan Ekstensifikasi, Intensifikasi, dan Pengembangan Teknologi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

KKP Targetkan Swasembada Garam 2027 dengan Ekstensifikasi, Intensifikasi, dan Pengembangan Teknologi
Foto: (Sumber: Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita (kedua kiri) dalam Talkshow Bincang Bahari bertajuk "Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri: Tantangan & Peluang Industri Nasional” di Jakarta, Kamis (12/2/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan swasembada garam pada 2027 guna mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan petambak, Kamis (12/2/2026).

Direktur Sumber Daya Kelautan Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyebut terdapat tiga strategi utama untuk mencapai target tersebut.

Ia mengatakan, "Ada tiga strategi yang kami siapkan yakni ekstensifikasi, intensifikasi, dan pengembangan teknologi," ujarnya.

Strategi pertama adalah ekstensifikasi melalui perluasan lahan produksi garam untuk meningkatkan kapasitas nasional.

Strategi kedua berupa intensifikasi guna meningkatkan produktivitas tambak yang sudah ada melalui perbaikan tata kelola dan metode produksi.

Strategi ketiga adalah pengembangan teknologi untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas produksi agar mampu memenuhi standar industri.

Frista menjelaskan kebutuhan garam nasional diperkirakan mencapai 4,9 hingga 5,2 juta ton per tahun, sementara sekitar 50 hingga 60 persen masih dipenuhi dari impor, terutama untuk kebutuhan industri.

Garam industri seperti untuk chlor alkali plant (CAP) dan aneka pangan memerlukan spesifikasi tinggi yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi produksi dalam negeri.

Produksi garam nasional rata-rata sekitar 2 juta ton per tahun dan bersifat fluktuatif sehingga terdapat kesenjangan sekitar 3 juta ton dari kebutuhan nasional.

Ia menyebut produksi dalam negeri belum optimal dari sisi kuantitas dan kualitas serta masih sangat bergantung pada cuaca karena metode tradisional yang dominan digunakan petambak.

Sentra garam umumnya hanya memiliki lima hingga enam bulan musim panas sehingga produksi tidak dapat berlangsung sepanjang tahun.

Penulis :
Ahmad Yusuf