Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ratusan Siswa di Bandarlampung Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Ratusan Siswa di Bandarlampung Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Foto: (Sumber: Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung bersama jajaran mengecek lokasi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kemiling usai terjadinya ratusan siswa diduga keracunan makanan. Bandarlampung, Sabtu (14/2/2026). ANTARA/HO-Istimewa.)

Pantau - Ratusan siswa di Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (13/2) di Kecamatan Kemiling.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan para siswa mengalami diare usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Ratusan Siswa dan Guru Terdampak

Di SDN 4 Sumberjo tercatat 77 siswa, sembilan guru, dan satu orang tua terdampak.

Di SD Al Munawaroh terdapat 64 siswa, 11 guru atau penjaga sekolah, dan satu orang tua terdampak.

Di SMPN 14 Bandarlampung sebanyak 43 siswa dilaporkan mengalami gejala serupa.

Sejumlah siswa menjalani perawatan di rumah sakit dan klinik, termasuk enam siswa SMPN 14 yang dirawat di rumah sakit dan Puskesmas Kemiling, sementara sebagian besar siswa SDN 4 Sumberjo menjalani rawat jalan.

Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Dinkes meminta Puskesmas Kemiling dan Bringin Raya untuk memantau kondisi siswa, guru, dan warga terdampak terutama yang menjalani rawat jalan.

Petugas telah mengambil sampel makanan dan air untuk diuji di laboratorium serta mendatangi lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kemiling sebagai dapur penyedia MBG.

Muhtadi menjelaskan secara fisik bangunan SPPG memenuhi kriteria, namun berdasarkan data Dinkes, SPPG tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) karena beberapa persyaratan belum terpenuhi sehingga rekomendasi penerbitan belum dapat diberikan.

Penyebab Masih Diselidiki

Hingga kini penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan dan masih didalami kemungkinan berasal dari bahan makanan, proses pengolahan, distribusi, atau faktor lain seperti makanan basi.

Dinkes menyatakan fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru terdampak mendapatkan penanganan medis dan kondisi mereka terus membaik.

Penulis :
Gerry Eka