Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Khofifah Hadiri Rakernas Pergunu dan Resmikan Kantor Pusat JKSN di Surabaya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Khofifah Hadiri Rakernas Pergunu dan Resmikan Kantor Pusat JKSN di Surabaya
Foto: (Sumber: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Ketua Umum JKSN sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago saat peresmian kantor JKSN di Surabaya. ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim)

Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama dan peresmian Kantor Pusat Jaringan Kiai Santri Nasional di Surabaya.

Khofifah menyatakan JKSN sebagai rumah besar kiai dan santri yang berperan sebagai penyejuk bangsa, pendamai, serta referensi kehidupan dengan penuh kebaikan.

"Ini luar biasa. Ini adalah jaringan santri dan kiai Indonesia. Tentu kita berharap bahwa ini akan jadi rumah besar yang menyejukkan. Karena para ulama senantiasa menjadi penyejuk, pendamai, dan referensi kehidupan dengan penuh kebaikan," katanya dalam keterangan diterima di Surabaya, Minggu.

Ia mengapresiasi pelaksanaan Rakernas Pergunu dan berharap peresmian Kantor Pusat JKSN membawa manfaat besar bagi seluruh jaringan kiai dan santri di Indonesia.

Khofifah menekankan pentingnya memiliki pola pikir global namun tetap berpijak pada kearifan lokal dalam kebijakan.

"Di JKSN kita bersama tentu punya komitmen bagaimana ini menjadi rumah besar yang menyejukkan untuk semua pihak. Bagaimana dari sisi pikiran, kita punya global mindset. Tetapi dari sisi kebijakan, antara local wisdom dan global mindset," ujarnya.

Ia menegaskan cita-cita menjadi penyejuk bangsa harus dimulai dari komitmen setiap anggota untuk menjadikan Islam rahmatan lil 'alamin.

"Ini mestinya terbangun pada posisi karakter akhlakul karimah. Insya Allah, ini akan menjadi bagian kekuatan. Di mana saja, karakter ini akan menjadi pilar penguat negara," ujar Khofifah.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago dalam kesempatan yang sama mengingatkan peran heroik santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia menyinggung resolusi jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

"Inilah yang kita rayakan setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Semuanya bermula di Jawa Timur. Oleh karena itu, nyala api itu sampai redup. Harusnya semakin membesar agar kita bisa mengabdi sepenuhnya kepada bangsa ini," ujarnya.

" Kemudian baru kita bangun Indonesia. Ini yang sebenarnya harus kita pahami," lanjutnya.

Ketua Umum JKSN sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan pesantren memiliki posisi strategis dalam sejarah pendidikan dan perjuangan bangsa.

"Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memberikan layanan pendidikannya pertama di Indonesia. Di saat-saat belum ada layanan pendidikan, pondok pesantren telah menjalankan pendidikan, dan pondok-pondok pesantren menjadi sentral perjuangan melawan penjajah di mana-mana," ujarnya.

Ia menambahkan organisasi ulama lahir dari komitmen menjaga persatuan dan nilai Islam moderat.

"Tujuannya jelas dua, yaitu memelihara dan mengembangkan di Indonesia ini faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan Indonesia merdeka. Maka, kita harus mentransformasi orientasi kita dari Indonesia merdeka menjadi keberhasilan cita-cita luhur kemerdekaan. Yaitu terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan," tuturnya.

Penulis :
Gerry Eka