
Pantau - Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menangani 21.579 kepala keluarga penyintas dari total 1.826 kejadian bencana yang terjadi di 40 kecamatan dan 363 desa atau kelurahan sepanjang 2025 dalam setahun kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika menyampaikan bahwa rangkaian bencana tersebut berdampak pada 77.065 jiwa dan menyebabkan 5.146 warga mengungsi.
Dari sisi dampak, tercatat 30 orang meninggal dunia serta ribuan rumah mengalami kerusakan kategori ringan, sedang, hingga berat.
Ujian awal kepemimpinan Rudy-Ade terjadi pada awal Maret 2025 ketika bencana hidrometeorologi menerjang kawasan Puncak dan sejumlah wilayah lain di Kabupaten Bogor.
Bencana tersebut menyebabkan akses jalan dan sedikitnya tujuh jembatan terputus, termasuk satu jembatan di Jalan Raya Citeureup–Sukamakmur, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, serta enam jembatan di kawasan Puncak.
Tiga jembatan jalan kabupaten berada di Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, dan Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, sementara tiga lainnya merupakan jalan desa di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua.
Ajat mengatakan, “Di awal masa jabatan, kami langsung dihadapkan pada bencana di kawasan Puncak dan beberapa wilayah lainnya. Bupati menginstruksikan seluruh perangkat daerah bergerak cepat dan menetapkan status tanggap darurat agar penanganan dapat dipercepat,”.
Untuk memulihkan konektivitas, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama TNI membangun jembatan Bailey yang dikerjakan sekitar tiga pekan oleh jajaran Kodam III Siliwangi, Korem 061 Suryakancana, serta Kodim 0621 Kabupaten Bogor.
Seluruh akses yang sempat terputus kembali tersambung menjelang Idul Fitri 2025 guna memudahkan silaturahim saat Lebaran dan memperlancar aktivitas perekonomian warga terdampak.
Pada fase awal Maret 2025, tercatat 401 kepala keluarga sempat mengungsi akibat banjir dan longsor.
Pemerintah daerah membuka posko pengungsian dan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik berupa beras, makanan siap saji, air mineral, selimut, matras, hingga perlengkapan bayi.
Secara keseluruhan, jenis bencana yang paling banyak ditangani adalah angin kencang sebanyak 919 kejadian, disusul tanah longsor 588 kejadian dan banjir 162 kejadian.
Pemerintah daerah juga memperkuat sistem respons melalui optimalisasi Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat 112 yang beroperasi 24 jam dan terintegrasi lintas instansi.
Refleksi setahun kepemimpinan tersebut menunjukkan tingginya frekuensi bencana di Kabupaten Bogor yang diimbangi dengan langkah responsif pemerintah daerah dalam penanganan darurat, pemulihan akses, serta penguatan mitigasi ke depan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







