
Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan Masjid Istiqlal siap menjadi rumah bagi semua umat beragama, tidak hanya umat Muslim, selama Ramadhan 1447 Hijriah sebagai wujud komitmen toleransi dan harmoni antariman.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan Masjid Istiqlal telah mendapat pengakuan dunia karena dinilai berhasil menjadi contoh moderasi beragama.
"Karena model pengelolaannya, Istiqlal diundang ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan dipercaya menjadi model pembangunan masjid di Amerika Latin dan Afrika," ungkapnya.
Menurutnya, pengakuan tersebut menunjukkan tata kelola Masjid Istiqlal tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di tingkat internasional.
Terowongan Silaturahmi Jadi Ikon Harmoni Antariman
Salah satu ikon internasional Masjid Istiqlal adalah Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan masjid terbesar di Asia Tenggara itu dengan Gereja Katedral Jakarta.
Terowongan bawah tanah tersebut kerap dikunjungi tamu negara dan menjadi simbol nyata hubungan harmonis antarumat beragama di Indonesia.
Sejumlah kepala negara telah meninjau langsung terowongan tersebut, termasuk Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama.
"Di dalam terowongan, terdengar perpaduan suara azan dan lonceng gereja, melambangkan harmoni antariman," jelas Nasaruddin.
Ia menilai keberadaan terowongan itu menjadi pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan kebangsaan.
Kegiatan Ramadhan dan Partisipasi Lintas Agama
Masjid Istiqlal memiliki kapasitas hingga 250 ribu pengunjung dan menjadi simbol toleransi dalam pelaksanaan ibadah kurban.
"Hewan kurban tidak hanya berasal dari umat Islam, tetapi juga dari non-Muslim, dengan kualitas yang sangat baik," ujarnya.
Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Istiqlal akan menggelar berbagai kegiatan rutin bagi jamaah.
Salat tarawih akan didahului dengan penampilan qari-qari internasional yang ditayangkan secara bergiliran hingga akhir Ramadhan.
Setelah rangkaian tarawih, kegiatan dilanjutkan dengan kultum oleh penceramah dari berbagai latar belakang.
"Setelah itu, juga dilanjutkan kultum oleh penceramah yang dipilih dari berbagai latar belakang: populer karena keilmuannya, tokoh publik atau artis religius, maupun da'i kondang," ia mengungkapkan.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis 19 Februari 2026 setelah diputuskan melalui Sidang Isbat.
Penetapan tersebut berbeda dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan satu hari lebih awal, yakni Rabu 18 Februari 2026.
Perbedaan metode penentuan awal Ramadhan menjadi dasar terjadinya perbedaan waktu penetapan antara pemerintah dan Muhammadiyah.
- Penulis :
- Leon Weldrick







