
Pantau - Libur Musim Semi atau Tahun Baru Imlek menjadi perayaan paling istimewa di China karena masyarakat Tiongkok menikmati libur lebih dari sepekan serta merayakan kekayaan tradisi dan budaya yang telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.
Catatan sejarah menunjukkan asal-usul Tahun Baru Imlek dapat ditelusuri hingga sekitar 2000 SM dan ditetapkan pada hari pertama penanggalan lunar berdasarkan kalender pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han.
Beragam catatan mitologis dari tiap kekaisaran mengerucut pada sosok Nian yang berarti tahun dalam bahasa China kontemporer dan digambarkan sebagai makhluk mengerikan yang muncul setiap malam tahun baru untuk meneror manusia.
Dalam legenda tersebut, seorang pendekar berhasil mengalahkan Nian dan berpesan agar penduduk memasang jimat kertas merah di pintu serta menyalakan petasan setiap akhir tahun karena makhluk itu tidak menyukai suara keras dan warna merah.
Frasa guo nian 过年 yang awalnya berarti selamat dari Nian kemudian bergeser makna menjadi merayakan Tahun Baru, mencerminkan konotasi ganda karakter guo 过 yang berarti melewati maupun merayakan.
Tradisi dekorasi serba merah dan menyalakan petasan tetap bertahan hingga kini meski fungsi sebagai penolak bala sebagian besar memudar dan berganti menjadi aktivitas meriah menyambut tahun baru.
Salah satu kegiatan populer saat Imlek di Beijing adalah festival kuil yang berakar dari ritual pemujaan masyarakat agraris kuno kepada dewa-dewi alam untuk memohon perlindungan dan hasil panen melimpah.
Musik dan tarian menjadi bagian penting dalam ritual tersebut sehingga memunculkan pertunjukan yang kemudian berkembang dalam festival kuil.
Interaksi sosial dan ekonomi turut tumbuh karena masyarakat berkumpul dan saling bertukar barang di area sekitar kuil.
Masuknya agama Buddha ke China pada abad pertama Masehi serta berkembangnya Taoisme menjadi titik balik perkembangan festival kuil karena kedua agama membangun kuil dan menciptakan berbagai kegiatan keagamaan untuk menarik perhatian masyarakat.
Salah satu ritual yang digelar adalah 行像 xing xiang yaitu arak-arakan patung dewa yang dihias menggunakan kereta warna-warni berkeliling kota dan diiringi musik, tarian, serta atraksi akrobat sehingga halaman kuil menjadi pusat keramaian.
Area kuil kemudian berkembang menjadi ruang yang memadukan unsur religi, hiburan, dan aktivitas perdagangan dengan puncak kejayaan terjadi pada masa Dinasti Ming 1368–1644 dan Dinasti Qing 1644–1911.
Pada masa tersebut, festival kuil tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan tetapi juga pusat perayaan publik, interaksi sosial, ekonomi, dan hiburan lintas kalangan.
Tradisi 逛庙会 guang miaohui atau berjalan santai menikmati suasana festival kuil saat Imlek telah mengakar kuat dalam budaya Beijing meski sempat terhenti selama beberapa dekade pada masa Revolusi Kebudayaan.
Sejak 1985, festival kuil kembali dihidupkan dan berkembang menjadi perayaan budaya yang tak terpisahkan dari Tahun Baru Imlek di Beijing modern.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







