
Pantau - Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan prajurit TNI yang dikerahkan dalam misi perdamaian bersama Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) di Gaza, Palestina, tidak melakukan operasi militer.
Ia menyampaikan dalam mandat ISF setiap negara peserta, termasuk Indonesia yang juga menjabat Wakil Komandan ISF, memiliki kesempatan menyampaikan batasan pengerahan pasukan atau national caveat.
“National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF bahwa kita tidak melakukan operasi militer. Kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi,” ujar Sugiono.
Ia menjelaskan ribuan pasukan Indonesia yang dikerahkan secara bertahap hanya menjalankan tugas kemanusiaan, melindungi masyarakat sipil, serta mempertahankan diri apabila terjadi serangan.
“Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana dan tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan rule of engagement aturan keterlibatan yang bisa kita lakukan sebagai pasukan apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri,” katanya.
Indonesia Jadi Wakil Komandan Operasi
Dalam struktur ISF, Amerika Serikat bertindak sebagai force commander yang didukung tiga deputy commander, salah satunya Indonesia yang bertanggung jawab di bidang operasi.
Sugiono menilai penunjukan tersebut sebagai penghormatan atas rekam jejak prajurit Indonesia dalam berbagai misi penjagaan perdamaian dunia.
“Karena pasukan Indonesia juga merupakan yang terbanyak di sana, maka deputy commander operasi ini juga merupakan sesuatu penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia. Kemudian, reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan penjagaan perdamaian,” ungkapnya.
Komitmen Kirim 8.000 Prajurit
Dalam pertemuan perdana Board of Peace di Donald J. Trump Institute of Peace di Washington DC pada Kamis 19 Februari pagi waktu setempat, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan kesiapan Indonesia mengirim 8.000 prajurit TNI untuk bertugas di Gaza.
“Gencatan senjata di Gaza merupakan capaian yang riil terjadi. Kami memuji capaian ini dan untuk itu kami menegaskan kembali komitmen untuk berkontribusi mengirimkan prajurit kami dalam jumlah yang signifikan sebanyak 8.000, bahkan bisa lebih jika dibutuhkan,” ujar Presiden.
Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memproyeksikan sekitar 20.000 tentara dan 12.000 polisi akan bertugas memulihkan situasi pascaperang di Gaza dengan Rafah di wilayah selatan sebagai tujuan awal misi.
Pemerintah Indonesia menegaskan keterlibatan TNI dalam ISF murni untuk misi kemanusiaan dan penjagaan perdamaian, bukan operasi militer.
- Penulis :
- Aditya Yohan







