Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Banjir Sumatera Membuat Ribuan Warga Aceh Nomaden dan Kehilangan Mata Pencaharian

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Banjir Sumatera Membuat Ribuan Warga Aceh Nomaden dan Kehilangan Mata Pencaharian
Foto: (Sumber: Petugas tengah melakukan pemeriksaan akhir jelang peresmian hunian sementara modular (huntara modular) untuk dapat digunakan oleh masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. ANTARA/HO-Tim Media Presiden.)

Pantau - Bencana banjir yang melanda Sumatera membuat banyak penyintas di Provinsi Aceh terpaksa menjadi nomaden dan berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah lainnya setelah hunian mereka hanyut atau tertimbun lumpur.

Sebagian penyintas memilih tidak tinggal di tenda pengungsian meskipun tenda telah dibangun di setiap posko terdampak karena menunggu hunian sementara atau Huntara selesai dibangun.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Minggu mencatat total 32.553 jiwa mengungsi di Provinsi Aceh akibat bencana tersebut.

Kabupaten Bener Meriah mencatat sekitar 4 ribu pengungsi, Kabupaten Gayo Lues sekitar 5 ribu pengungsi, dan Kabupaten Aceh Utara sekitar 12 ribu pengungsi.

Hasafah bersama suaminya Mohammad Natsir dan dua anaknya menjadi salah satu keluarga penyintas di Kabupaten Bener Meriah yang kini berpindah-pindah tempat tinggal.

Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang masih dipenuhi puing dan retakan aspal menuju bekas rumahnya di Desa Pantan Kemuning, Dusun Pintu Rimba, Kecamatan Timang.

Akses menuju desa tersebut kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua setelah jembatan penghubung empat desa di Kecamatan Timang diterjang banjir besar pada 26 November 2025 dan digantikan jembatan darurat.

Rumah Natsir dan Hasafah tertimbun lumpur setinggi atap hingga rata dengan tanah setelah diterjang banjir.

“Terpukul melihat kondisi rumah dibawa (banjir), kayak gitu. Kami menunggu dari atas bukit melihat sampai rumah kami habis, baru kami naik ke atas kemudian bertempat di sekolah sana,” ungkapnya.

Setelah banjir, keluarga tersebut sempat mengungsi ke SD Impres dekat desa sebelum berpindah ke posko pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Sekitar satu bulan tinggal di posko, Natsir memutuskan mengetuk pintu rumah adiknya Muslihadi yang tidak terdampak bencana.

“Ini kan Bulan Ramadhan, jadi enggak mungkin kayaknya di sana malam-malam sahur. Jadi pulang ke tempat saudara,” ujarnya.

Sebelum bencana, Hasafah bekerja sebagai penjahit dan menerima banyak pesanan baju saat Ramadhan.

“Kalau dulu, Ramadhan kami kan jahit baju, setiap hari ada yang orang datang hantar baju, jahit baju. Kalau sekarang kan sudah hilang semua alat kami itu, mesin jahitnya semua,” katanya.

Mesin jahit serta mata pencaharian suaminya sebagai pekebun kopi dan palawija hilang akibat banjir yang menerjang kawasan tersebut.

“Dulu di rumah sendiri. Sekarang kami menumpang rumah orang, perasaannya beda. Enakan rumah sendiri. Walaupun rumah kami, nggak bisa diingat lagi. Sedih kalau diingat,” tuturnya.

Tercatat 70 kartu keluarga penyintas dari Desa Pantan Kemuning berada di posko pengungsian di Desa Tunjang sementara sebagian lainnya memilih tinggal di rumah kerabat.

Total kerusakan rumah di Bener Meriah mencapai 1.411 unit yang terdiri dari 854 rusak berat, 186 rusak sedang, dan 371 rusak ringan.

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menargetkan pemindahan seluruh pengungsi ke Huntara rampung pekan depan sebagai bagian dari tahap kedua penanganan bencana.

“Hari ini dari 914 Huntara yang kami bangun, ini sudah hampir 70 persen diisi oleh pengungsi,” kata Sekretaris Daerah Bener Meriah Riswandika Putra.

Tahap kedua penanganan bencana juga difokuskan pada pembukaan akses jalan dan jembatan terdampak untuk memulihkan aktivitas warga.

Tercatat sebanyak 648 akses jalan dan 649 jembatan terdampak di Bener Meriah dan sekitar 70 persen di antaranya telah diperbaiki.

Pemerintah daerah turut memprioritaskan pembukaan akses menuju lahan pertanian dan perkebunan karena kopi Gayo sedang memasuki masa panen.

“Harapannya memang dalam Minggu ini seluruh pengungsi wajib masuk Huntara. Kami terus mendorong vendor untuk lebih cepat menyiapkan Huntara,” tegasnya.

Proses revitalisasi pasca bencana di wilayah tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar tiga tahun.

Penulis :
Gerry Eka