Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Puluhan Jamaah Ikuti Ibadah Suluk Ramadhan di Aceh Besar Meski Terdampak Bencana

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Puluhan Jamaah Ikuti Ibadah Suluk Ramadhan di Aceh Besar Meski Terdampak Bencana
Foto: (Sumber: Jamaah mengikut ibadah suluk di Aceh Besar, Minggu (22/2/2026). ANTARA/M Haris SA.)

Pantau - Sebanyak 64 jamaah dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Aceh mengikuti ibadah suluk Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dipusatkan di Dayah Darul Aman, Gampong Lampuuk Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Ketua Yayasan Dayah Darul Aman Tgk Saifullah menyampaikan bahwa ibadah suluk rutin dilaksanakan setiap bulan suci Ramadhan.

“Ibadah suluk setiap tahun kami laksanakan pada bulan puasa Ramadhan. Tahun ini ada sebanyak 64 orang ikut jamaah suluk. Jumlah tersebut berkurang dari tahun lalu yang mencapai seratusan orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan berkurangnya jumlah jamaah tahun ini disebabkan dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sebagian wilayah Aceh pada akhir November 2025.

“Sebagian jamaah yang biasa mengikuti ibadah suluk ikut menjadi korban bencana, ada yang rumahnya terbawa banjir, ada juga yang tertimbun lumpur,” katanya.

Meski demikian, sebagian korban bencana tetap mengikuti suluk karena menganggap ibadah tersebut sebagai bagian dari pemulihan trauma.

Zikir 70 Ribu Kali dan Pola Makan Vegetarian

Tgk Saifullah menyampaikan bahwa suluk merupakan ibadah yang berfokus pada zikir siang dan malam hingga mencapai 70 ribu kali.

“Ibadah suluk semacam penyucian jiwa, di mana jamaah berzikir dalam hati untuk mencapai ketenangan dan kedekatan dengan Allah SWT. Ibadah suluk ini dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan,” ungkapnya.

Pelaksanaan ibadah suluk tidak dibatasi usia dan biasanya didominasi jamaah berusia di atas 50 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, namun juga diikuti mahasiswa dan kalangan muda.

Selama mengikuti suluk, jamaah tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan berlemak dan daging karena dinilai dapat meningkatkan hawa nafsu.

“Jadi, selama melaksanakan ibadah suluk, jamaah hanya memakan sayuran atau biasa disebut vegetarian. Ini untuk menghindari emosi yang bisa mempengaruhi jamaah saat menjalani ibadah suluk,” jelasnya.

Zikir dilakukan dalam hati dan sebagian peserta menutup kepala dengan kain agar lebih fokus dan berkonsentrasi.

Tradisi Suluk Berkembang Sejak 1970-an

Tradisi suluk mulai berkembang di Aceh pada 1970-an dan dibawa oleh Abuya Sjech Muda Waly Al Khalidi.

Ibadah suluk kemudian disebarluaskan oleh murid-muridnya ke berbagai daerah di Aceh yang dikenal dengan sebutan Bumi Serambi Mekah.

Penulis :
Gerry Eka