
Pantau - Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, menyatakan Bali menjadi salah satu tujuan study tour pelajar Jepang yang berpeluang besar digarap optimal oleh pelaku pariwisata di Pulau Dewata.
Pernyataan tersebut disampaikan Miyakawa kepada ANTARA saat ditemui di Jimbaran Hub, Kabupaten Badung, Bali.
Ia mengatakan, "Kalau Jepang mau mengadakan study tour itu Bali, salah satu berita baiknya." ungkapnya.
Menurutnya, pelajar asal Jepang datang ke Bali untuk mengenal budaya secara lebih dekat serta mempelajari kondisi sosial dan lingkungan setempat.
Salah satu aspek yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi pelajar Jepang adalah upaya penanganan sampah di Bali.
Ia menyampaikan, "Mereka memang kaget (melihat sampah) karena di Jepang itu bersih, tapi itu menjadi salah satu pelajaran mahasiswa apabila sampah tidak diatur." jelasnya.
Peluang Musim Libur dan Tren Kunjungan
Miyakawa menjelaskan musim libur sekolah di Jepang biasanya berlangsung pada Maret hingga April serta Juli hingga Agustus yang dinilai sebagai peluang untuk menyasar pasar wisata pelajar.
Ia menilai periode liburan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan promosi pariwisata Bali di kalangan pelajar Jepang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan Jepang ke Bali pada 2025 mencapai 208 ribu orang dan berada di posisi ke-10 sebagai negara asal wisatawan mancanegara.
Angka tersebut meningkat hampir 18 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 176 ribu orang.
Meski menunjukkan tren positif, jumlah tersebut masih belum melampaui puncak kunjungan pada 2008 yang mencapai 350 ribu orang.
Kendala Penerbangan dan Nilai Tukar Yen
Ia memperkirakan belum signifikannya peningkatan kunjungan dipengaruhi oleh berkurangnya penerbangan langsung dan jumlah rute dari Jepang ke Bali.
Saat ini hanya Garuda Indonesia yang melayani penerbangan langsung dari Denpasar ke Tokyo setelah sebelumnya rute Jepang-Bali juga dilayani Japan Airlines dan All Nippon Airways.
Selain faktor konektivitas, nilai tukar valuta asing yang mahal turut memengaruhi biaya perjalanan wisatawan Jepang ke luar negeri.
Ia menjelaskan, "Dulu satu dolar AS itu sekitar 80 yen, sekarang menjadi 160 yen sehingga jadi dua kali lipat. Akibatnya, akomodasi mahal, ongkos pesawat mahal." paparnya.
Miyakawa berencana melakukan penjajakan dengan maskapai asal Jepang untuk membuka kembali opsi penerbangan langsung ke Bali.
Ia menyatakan, "Kalau ada kesempatan baik, saya akan bicara dengan JAL, atau ANA untuk bisa buka rute baru." tegasnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa wisatawan Jepang memiliki perhatian khusus terhadap aspek keamanan destinasi pariwisata.
- Penulis :
- Shila Glorya







