Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pertumbuhan Kredit UMKM Dinilai Bergantung pada Kinerja Perdagangan, Pertanian, dan Manufaktur

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pertumbuhan Kredit UMKM Dinilai Bergantung pada Kinerja Perdagangan, Pertanian, dan Manufaktur
Foto: (Sumber : Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memaparkan materi dalam acara silaturahmi bersama media di Jakarta, Rabu (25/2/2026). ANTARA/Rizka Khaerunnisa..)

Pantau - Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memandang kinerja kredit UMKM berpotensi tumbuh agresif apabila sektor perdagangan, pertanian, serta industri pengolahan konsisten tumbuh menguat karena ketiganya menyumbang mayoritas total kredit UMKM.

Kredit UMKM saat ini terkonsentrasi pada tiga sektor utama yang menyumbang sekitar 75 persen dari total kredit UMKM yakni perdagangan besar dan eceran sebesar 45 persen, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 19,4 persen, serta sisanya berasal dari industri pengolahan atau manufaktur.

“Kalau sektor-sektor tersebut belum tumbuh secara konsisten, misalnya pertanian rata-rata masih tumbuhnya di 2,4 persen, memang sangat sulit untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM lebih agresif lagi,” kata Andry Asmoro di Jakarta, Rabu malam.

Ketiga sektor tersebut juga merupakan kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto Indonesia sehingga pergerakannya sangat memengaruhi permintaan kredit UMKM.

Dalam tiga tahun terakhir rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih tertinggal sebesar 2,4 persen sementara sektor perdagangan rata-rata tumbuh 5 persen dan sektor manufaktur 4,8 persen dalam periode yang sama.

Tim ekonom Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan tahun ini berada di kisaran high single digit hingga low double digit atau sekitar 9–11 persen.

Asmo memperkirakan pertumbuhan kredit UMKM berada di kisaran 4–5 persen dan menilai pertumbuhan pada level 4 persen sudah cukup baik.

Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan diperkirakan menurun menjadi sekitar 17 persen dari sebelumnya 19 persen.

Prospek kredit UMKM dinilai masih terbuka terutama melalui program pemerintah yang mendukung ekosistem usaha seperti Program Makan Bergizi Gratis.

Program tersebut dinilai berpotensi membangun rantai nilai baru bagi UMKM sehingga mendorong permintaan kredit mikro maupun kredit konsumsi.

Salah satu tantangan utama UMKM adalah memastikan keberadaan off taker yang jelas agar keberlanjutan usaha lebih terjamin.

Jika UMKM telah terintegrasi dalam ekosistem dengan off taker yang jelas maka akses pembiayaan berbasis invoice atau invoice based loan menjadi lebih mudah dan menciptakan sumber kredit yang lebih aman bagi perbankan.

Pada kesempatan yang sama SVP Micro Development dan Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan menjelaskan pihaknya memanfaatkan basis nasabah korporasi untuk mendorong penyaluran kredit kepada UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem bisnis mereka.

Pertumbuhan kredit UMKM Bank Mandiri pada Januari 2026 tercatat cukup positif dibandingkan bulan sebelumnya dan secara tahunan portofolio micro banking juga menunjukkan kenaikan.

“Kalau di Bank Mandiri, sejauh ini NPL UMKM masih di bawah 2 persen, bahkan di bawah 1,5 persen. Jadi kita bisa manage, karena strategi pertumbuhan kita diarahkan kepada strategi untuk pemberdayaan UMKM yang merupakan turunan dari nasabah-nasabah korporasi,” kata Bayu.

Dari total penyaluran kredit perseroan sekitar Rp1.500 triliun porsi micro banking sekitar Rp100 triliun meski porsinya relatif kecil segmen tersebut mencatat pertumbuhan cukup baik dalam lima tahun terakhir.

“Ini yang membuat kami semakin yakin bahwa peran kami untuk memberdayakan UMKM khususnya untuk naik kelas itu harus terus kita dorong,” kata Bayu.

Penulis :
Aditya Yohan