
Pantau - Kementerian Pertanian menegaskan keberlanjutan dan hilirisasi menjadi kunci menjaga dominasi sawit nasional di tengah berbagai isu global sekaligus memastikan kontribusi berkelanjutan terhadap perekonomian dan kesejahteraan petani.
Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro, menyampaikan bahwa sawit Indonesia merupakan hasil perjalanan panjang sejak 1980-an yang menjadi fondasi industri saat ini.
Dalam Forum Kampanye Sawit Baik di Jakarta pada Senin 2 Maret 2026, ia menyatakan, "Kita kalau hanya bangga dengan capaian yang sekarang kita capai ini, tanpa mempertimbangkan keberlanjutan eksistensi sawit kita, ini khawatir suatu saat akan mengalami kurva yang menurun. Padahal, kita tahu bagaimana kontribusi sawit dalam perekonomian nasional,".
Ia menekankan usia pengembangan sawit yang telah melampaui empat dekade menuntut strategi serius guna menjamin keberlanjutan produksi agar tidak terjadi penurunan kurva kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Kontribusi Sawit dan Tantangan Produktivitas
Sawit menjadi penyumbang produk domestik bruto terbesar di sektor perkebunan melampaui karet, kopi, kakao, dan kelapa serta menjadi penopang utama penerimaan pertanian nasional.
Berdasarkan data 2019, luas tutupan sawit Indonesia tercatat mencapai 16,38 juta hektare.
Produksi sawit pada 2023 mencapai 47 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 48,12 juta ton pada 2025.
Rata-rata produktivitas nasional mencapai 3,3 ton per hektare yang dinilai lebih efisien dibanding kedelai sebesar 0,4 ton per hektare serta lebih unggul dalam penggunaan lahan dibanding bunga matahari.
Komposisi pengelolaan sawit nasional terdiri dari sekitar 42 persen perkebunan rakyat, 48 persen swasta, dan 8 persen BUMN dengan variasi produktivitas yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Industri sawit menyerap sekitar 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 6,8 juta tenaga kerja tidak langsung sehingga total dampaknya mencapai 16,5 juta orang.
Hilirisasi dan Penguatan ISPO
Kementan menegaskan penguatan hilirisasi sebagai agenda strategis agar Indonesia tidak hanya mengekspor crude palm oil atau CPO tetapi juga mengembangkan produk turunan seperti pangan, farmasi, kosmetik, hingga bioenergi.
Program biodiesel yang berjalan dari B35 menuju B40 bahkan B50 menunjukkan potensi besar sawit sebagai energi terbarukan termasuk pengembangan bioavtur untuk kebutuhan penerbangan.
Pasar domestik dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dinilai menjadi kekuatan besar untuk menyerap produk turunan sawit apabila terjadi hambatan perdagangan global.
Dalam menghadapi isu deforestasi, ketenagakerjaan, serta regulasi seperti kebijakan EUDR Uni Eropa, pemerintah memperkuat tata kelola melalui penerapan wajib Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO mulai 2026.
ISPO memuat tujuh prinsip utama yaitu kepatuhan hukum, praktik budidaya yang baik, pengelolaan lingkungan, tanggung jawab ketenagakerjaan, tanggung jawab sosial, transparansi, serta peningkatan usaha berkelanjutan.
Kementerian Pertanian juga mendorong sinergi lintas pihak untuk mengangkat sisi konstruktif pembangunan sawit sekaligus membangun pondasi hilirisasi tujuh komoditas lain agar keberhasilan sawit menjadi model industrialisasi perkebunan nasional.
- Penulis :
- Leon Weldrick







