
Pantau - Direktorat Pesantren Kementerian Agama kembali menggelar kegiatan Takjil Pesantren yang dirangkai dengan talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Daarul Rahman, Jakarta Selatan, pada Selasa.
Kegiatan Takjil Pesantren seri kedua tersebut mengangkat tema Beragama dengan Asyik sebagai upaya memperkuat budaya keberagamaan yang hidup di lingkungan pondok pesantren.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Arskal Salim menjelaskan bahwa pesantren memiliki kebiasaan dalam menjalankan ibadah yang menjadikan pengalaman beragama terasa menyenangkan.
Ia mengatakan praktik ibadah di pesantren telah menjadi rutinitas sekaligus budaya yang membentuk pengalaman beragama yang tidak kaku.
Menurut Arskal, pembiasaan ibadah sehari-hari membuat agama hadir sebagai bagian dari rutinitas yang menyenangkan bagi para santri.
Ia menambahkan tradisi tersebut juga turut membangun karakter kebangsaan di lingkungan pesantren.
Santri Didorong Kuasai Ilmu Agama dan Teknologi
Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Faiz Syukron Makmum menegaskan bahwa konsep beragama yang asyik harus tetap bertumpu pada kedalaman ilmu.
Ia menilai santri tidak boleh hanya dibatasi pada pembelajaran ilmu agama semata.
Faiz menekankan pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan zaman serta integrasi penguasaan ilmu agama dengan literasi teknologi bagi santri masa kini.
Menurutnya santri perlu mampu memadukan pemahaman agama dengan perkembangan teknologi agar dapat berperan di tengah masyarakat.
Ia juga menyebut metode ngaji tidak harus selalu formal dan perlu disesuaikan dengan forum yang menerima ilmu.
Faiz menambahkan kultur dan inovasi dalam cara belajar menjadi fondasi penting bagi perkembangan santri.
Ia mengatakan pembiasaan sejak dini akan membantu santri beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan arah.
Faiz menegaskan pesantren perlu melahirkan generasi yang mampu tumbuh selaras dengan perjalanan zaman.
Negara Didorong Perkuat Kemandirian Pesantren
Direktur Pesantren Basnang Said menyatakan negara perlu hadir untuk memastikan pesantren semakin kuat dan mandiri.
Ia menjelaskan kehadiran negara dapat diwujudkan melalui ruang dialog serta kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan pesantren.
Basnang menyebut perlunya forum yang mengumpulkan pesantren se-DKI Jakarta untuk menampung berbagai masukan dari pondok pesantren.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi Dana Abadi Pesantren sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi pesantren.
Basnang mengatakan Dana Abadi Pesantren hadir dalam bentuk bantuan inkubasi bisnis pesantren agar lembaga pendidikan tersebut dapat berkembang secara mandiri.
Ia menambahkan skema inkubasi bisnis menjadi langkah konkret untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren di masa depan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







