
Pantau - Ledia Hanifa menilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) penting sebagai instrumen untuk memetakan capaian pendidikan nasional secara lebih komprehensif.
Perbedaan Fungsi TKA dan Asesmen Nasional
Ia menjelaskan TKA memiliki fungsi berbeda dengan asesmen nasional yang selama ini berfokus pada evaluasi penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah.
"TKA itu tes kemampuan akademik (yang menjadi) bagian dari upaya kita untuk bisa membuat peta keseluruhannya berkaitan dengan kondisi pendidikan kita seperti apa. Kalau asesmen nasional, dia lebih melihat kepada penyelenggara pendidikannya sekolah, kalau TKA dia lebih kepada individunya," ungkapnya.
Melalui TKA, pemerintah dapat mengetahui secara lebih spesifik posisi kemampuan peserta didik setelah menempuh jenjang pendidikan tertentu.
"Sejauh mana sih sebenarnya anak-anak di Indonesia setelah menempuh 6 tahun, 9 tahun, 12 tahun pendidikannya, dia posisinya sebenarnya sampai di mana," katanya.
Ia menekankan hasil pemetaan dari TKA seharusnya dimanfaatkan sebagai dasar intervensi kebijakan pendidikan, bukan hanya evaluasi rutin tahunan.
"Nah ini harus menjadi sebuah peta yang baik, terutama ketika kemudian akan melanjutkan pendidikan yang berikutnya. Kalaupun itu tidak dijadikan landasan untuk kependidikan berikutnya, sebenarnya tidak harus setiap tahun," ujarnya.
Ketidaksinkronan dan Evaluasi Kebijakan
Ledia juga menyoroti adanya ketidaksinkronan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam pemanfaatan TKA sebagai standar seleksi masuk perguruan tinggi.
"Ini menunjukkan betapa sesungguhnya belum nyambung antara pendidikan menengah kita dengan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi menganggap bahwa ini bisa dijadikan standar untuk penerimaan," katanya.
Ia menambahkan perlu perhatian khusus terhadap penerapan TKA bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena dinilai belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan pendidikan vokasi.
Menurutnya, tidak semua siswa SMK membutuhkan penguasaan akademik yang sama sehingga pendekatan penilaian perlu disesuaikan dengan kompetensi kejuruan masing-masing.
"Misalnya kalau dia tata boga, dia perlu pariwisata, toh dia tidak memerlukan matematika secara umum yang seperti dilakukan TKA-nya selama ini," ujarnya.
Ia menegaskan diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan TKA termasuk penyempurnaan standar dan indikator penilaian agar lebih relevan dan adil.
"Ini menjadi bagian yang masih harus dievaluasi, diperbaiki, supaya nanti benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia dan benar-benar memberikan peta yang valid bagi peta pendidikan di Indonesia," tuturnya.
- Penulis :
- Leon Weldrick








