
Pantau - Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin menilai langkah dan kemajuan yang dicapai Indonesia dan Malaysia dalam menyelesaikan isu perbatasan patut menjadi contoh bagi dunia.
Ia menyebut kedua negara memiliki kemauan politik bersama untuk menyelesaikan persoalan perbatasan secara damai.
Menurutnya isu perbatasan merupakan persoalan yang rumit dan sensitif karena berkaitan langsung dengan kedaulatan serta keutuhan wilayah negara.
Ia mengatakan, "Saya pikir kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa meskipun menghadapi kerumitan isu perbatasan dengan dialog damai dan negosiasi, kita masih bisa menyelesaikannya dengan cita-cita memberi manfaat bagi rakyat kedua negara di masa depan," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia membentang lebih dari 2.000 kilometer di Pulau Kalimantan.
Nota kesepahaman terbaru telah menetapkan demarkasi perbatasan antara Provinsi Kalimantan Utara dan negara bagian Sabah.
Pemerintah kedua negara masih melanjutkan perundingan mengenai empat masalah perbatasan yang belum terselesaikan atau outstanding border problems.
Empat masalah tersebut berada di wilayah negara bagian Sarawak yang berbatasan dengan Kalimantan Barat serta sebagian wilayah Kalimantan Utara.
Dato Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin menjelaskan bahwa penentuan demarkasi dalam negosiasi dilakukan berdasarkan kesepakatan serta konvensi masa lalu yang telah disepakati kedua negara.
Ia menilai apabila seluruh persoalan perbatasan berhasil diselesaikan maka kerja sama bilateral antara Indonesia dan Malaysia akan semakin meningkat.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang termasuk keamanan wilayah perbatasan dan pengembangan ekonomi kawasan.
Ia mengatakan, "Kerja sama perbatasan, di samping meningkatkan kerja sama melawan kejahatan transnasional, juga berperan mendorong peluang ekonomi baru di kawasan perbatasan," jelasnya.
Ia juga meyakini hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia akan semakin baik setelah seluruh isu perbatasan terselesaikan.
Ia mengatakan, "Saya percaya bahwa kedua pihak terus berkomitmen menyelesaikan isu-isu bilateral lain yang masih tersisa antara kedua negara," ujarnya.
Sementara itu Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia Komjen Pol Makhruzi Rahman menyebut masih terdapat empat outstanding border problems di wilayah Kalimantan Barat dan Sarawak.
Empat titik perbatasan tersebut meliputi D.400, Gunung Raya, Sibuan, dan Batu Aum.
Keempat titik perbatasan tersebut saat ini masih dalam tahap survei lapangan unilateral oleh tim teknis perundingan Indonesia.
Selain itu pembahasan teknis juga dilakukan melalui mekanisme kelompok kerja bersama atau joint working group antara kedua negara.
Mekanisme tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk menyelesaikan persoalan perbatasan secara bertahap melalui dialog dan negosiasi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







