
Pantau - Bencana sering terjadi dalam waktu singkat, namun dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan kerusakan yang terlihat secara langsung, termasuk terhadap akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
Ketika banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatra beberapa waktu lalu, kerusakan yang tampak paling jelas adalah jembatan yang putus, jalan yang rusak, serta desa-desa yang sempat terisolasi.
Di balik kerusakan fisik tersebut muncul tantangan lain setelah air surut, yaitu bagaimana masyarakat mempertahankan kebutuhan dasar keluarga mereka, terutama akses terhadap pangan bergizi.
Kondisi tersebut kini dirasakan oleh warga di Desa Serba dan Desa Pematang Durian di Kabupaten Aceh Tamiang.
Pemulihan kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut tidak hanya berkaitan dengan membersihkan rumah atau memperbaiki fasilitas umum, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat kembali memperoleh sumber pangan yang memadai bagi keluarga mereka.
Akses Logistik Terhambat Infrastruktur Rusak
Penyuluh kesehatan Puskesmas Sekerak Ersyad menjelaskan bahwa perjalanan untuk memperoleh bahan pangan masih menjadi tantangan bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Sebagian warga harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mendapatkan bahan makanan.
Warga dari Desa Pematang Durian bahkan harus menempuh perjalanan sekitar satu hingga dua jam untuk mencapai lokasi yang menyediakan bahan pangan.
Perjalanan tersebut menjadi semakin sulit karena kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang.
Jembatan yang sebelumnya menjadi jalur utama menuju desa mengalami kerusakan dan putus akibat diterjang arus banjir.
Akibatnya akses menuju desa harus melalui jalur memutar dengan jarak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan rute normal sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat perjalanan yang biasanya sederhana berubah menjadi perjalanan yang memerlukan waktu, tenaga, serta biaya yang lebih besar.
Tenaga Kesehatan Ingatkan Pentingnya Gizi Seimbang
Keterbatasan akses logistik juga memengaruhi jenis makanan yang tersedia di masyarakat.
Dalam kondisi tersebut bantuan yang paling mudah disalurkan umumnya berupa makanan praktis seperti mi instan dan susu kental manis.
Jenis makanan ini memiliki keunggulan karena mudah disimpan, mudah didistribusikan, dan dapat segera dikonsumsi oleh masyarakat yang membutuhkan.
Pada fase darurat makanan praktis memang menjadi solusi yang sangat membantu bagi masyarakat terdampak bencana.
Namun tenaga kesehatan mengingatkan bahwa dalam jangka panjang masyarakat tetap memerlukan asupan gizi yang lebih beragam, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Ersyad mencontohkan bahwa konsumsi susu kental manis secara terus-menerus tidak ideal bagi anak-anak.
Ia menjelaskan kandungan gula yang tinggi pada susu kental manis dapat menimbulkan efek kenyang semu sehingga anak merasa sudah cukup makan meskipun kebutuhan gizi mereka sebenarnya belum terpenuhi secara lengkap.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola makan anak karena rasa manis menjadi dominan dalam konsumsi harian mereka.
Jika anak terbiasa dengan rasa manis, mereka berpotensi menjadi kurang tertarik pada makanan lain yang lebih bergizi.
Apabila kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, situasi tersebut berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








