
Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mendorong perguruan tinggi di Indonesia membentuk konsorsium riset intervensi literasi dan numerasi guna membantu menyelesaikan persoalan rendahnya kemampuan membaca dan matematika di kalangan pelajar.
Dorongan tersebut disampaikan berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development.
Hasil laporan tersebut menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca dan matematika.
"Kadang anak hadir secara fisik di sekolah, tetapi tidak benar-benar hadir secara psikologis dalam proses pembelajaran. Mereka datang membawa tas dan buku, tetapi tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu, kami berharap perguruan tinggi dapat membentuk konsorsium untuk menghadirkan program-program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat," kata Fauzan.
Perguruan Tinggi Dinilai Punya Peran Strategis
Fauzan menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan literasi dan numerasi melalui kolaborasi riset yang terstruktur.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan intervensi pendidikan berbasis data yang dapat diterapkan secara luas.
Melalui konsorsium tersebut, perguruan tinggi dapat bersama-sama mengembangkan model pembelajaran serta program intervensi literasi dan numerasi.
Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
"Dengan adanya konsorsium perguruan tinggi, perguruan tinggi diharapkan dapat saling bekerja sama mengembangkan program yang berdampak bagi masyarakat," ujar Fauzan.
Sejalan dengan Prioritas Pembangunan SDM
Upaya tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2029 tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam akses pendidikan dasar.
Target tersebut mencakup peningkatan kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kebijakan tersebut diperkuat melalui program Diktisaintek Berdampak.
Program tersebut mendorong perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset dan publikasi ilmiah tetapi juga menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, hasil riset diharapkan dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat pemerataan pendidikan di berbagai daerah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







