Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Riset UI Sebut Ruang Siber Jadi Medan Strategis Rivalitas Geopolitik Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Riset UI Sebut Ruang Siber Jadi Medan Strategis Rivalitas Geopolitik Global
Foto: (Sumber : Seminar Hasil Riset Unggulan Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-58 FISIP UI. ANTARA/HO-Humas UI.)

Pantau - Hasil riset yang dilakukan dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia Ali Abdullah Wibisono menunjukkan bahwa ruang siber kini tidak lagi sekadar arena teknologi, tetapi telah berkembang menjadi medan strategis dalam rivalitas geopolitik global.

Penelitian tersebut dilakukan melalui kerja sama antara Universitas Indonesia dan Australian Strategic Policy Institute.

Riset tersebut menunjukkan ketergantungan negara terhadap infrastruktur digital semakin tinggi.

Infrastruktur digital tersebut mencakup berbagai sektor penting mulai dari sistem perbankan hingga pertahanan negara.

Ketergantungan tersebut membuat serangan siber memiliki dampak strategis terhadap keamanan nasional.

Ali Abdullah Wibisono mengatakan bahwa "Terjadi pergeseran konflik antarnegara dari medan fisik ke medan digital. Ruang digital kini menjadi domain kelima dalam perang modern, sehingga memerlukan statecraft dan strategi diplomasi khusus,".

Ali Abdullah Wibisono menyoroti sejumlah tantangan domestik yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan diplomasi siber.

Salah satu tantangan tersebut adalah keterbatasan kerangka hukum terkait keamanan siber.

Tantangan lainnya adalah kesenjangan infrastruktur digital di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu Indonesia juga berada di tengah tekanan geopolitik global yang dipengaruhi rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Persaingan antara kedua negara tersebut turut memengaruhi kompetisi teknologi di kawasan Indo Pasifik.

Ali Abdullah Wibisono mengatakan bahwa "Indonesia menghadapi dilema politik luar negeri bebas aktif, yaitu bagaimana menyeimbangkan keterbukaan ekonomi dengan kedaulatan digital,".

Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja memaparkan data terkait tingginya intensitas serangan siber di Indonesia.

Dalam enam bulan terakhir tercatat sekitar 3,64 miliar serangan siber yang terjadi di Indonesia.

Jumlah tersebut setara dengan rata-rata lebih dari 230 serangan per detik.

Ardi Sutedja mengatakan bahwa "Angka ini menjadi alarm serius mengenai gentingnya isu keamanan siber nasional,".

Ia menambahkan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan strategis dalam penguatan keamanan siber.

Tantangan tersebut antara lain diplomasi data dengan negara lain serta pengaturan aliran data lintas negara atau cross border data flow.

Indonesia juga harus menjaga kedaulatan digital nasional di tengah perkembangan teknologi global.

Untuk menghadapi tantangan tersebut pemerintah dinilai perlu memperkuat regulasi keamanan siber.

Pemerintah juga perlu mendorong pengembangan teknologi lokal serta menjamin perlindungan hak digital masyarakat.

Diplomasi siber dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Oleh karena itu diperlukan pendekatan diplomasi modern dalam pengelolaan keamanan siber.

Pendekatan tersebut perlu melibatkan kolaborasi lintas sektor dan multi stakeholder.

Pihak yang terlibat antara lain akademisi, industri teknologi, serta berbagai aktor non negara.

Penulis :
Ahmad Yusuf