
Pantau - Sali memimpin pengajian dari barisan depan di masjid darurat Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, dengan suara tenang yang menggema melalui pengeras suara di tengah suasana dingin pegunungan.
Lantunan ayat suci Al Quran yang dibacakannya selama Ramadhan mengingatkan warga pada suasana imam di Masjidil Haram.
Sali dikenal sebagai imam masjid sekaligus tokoh masyarakat yang dituakan di desa tersebut.
Masjid darurat itu berdiri sederhana di tengah permukiman warga yang masih dalam proses pemulihan pascabencana.
Bangkit dari Banjir Bandang
Banjir bandang yang melanda Desa Tetingi pada 26 November 2025 menghancurkan permukiman warga, termasuk Masjid Al-Muhsinin yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan.
Dalam satu malam, masjid yang kokoh itu hilang tersapu arus bersama puluhan rumah warga.
Meski mengalami kehilangan besar, warga tidak larut dalam kesedihan dan segera kembali melaksanakan ibadah.
Sehari setelah bencana, azan kembali dikumandangkan dari bangunan seadanya hingga akhirnya berdiri masjid darurat yang kini digunakan bersama.
Ramadhan Penuh Keteguhan Iman
Selama Ramadhan, Sali memimpin rangkaian ibadah mulai dari shalat Isya, tarawih dan witir 23 rakaat, tilawah Al Quran hingga tahajud menjelang sahur.
Jamaah datang sejak waktu berbuka, duduk bersila di atas tikar, dan berdoa dengan khusyuk meski dalam keterbatasan fasilitas.
Memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, aktivitas ibadah semakin intens dengan sebagian warga memilih beriktikaf di masjid darurat.
Suara lantunan ayat suci berpadu dengan deru arus sungai yang masih membekas dalam ingatan warga sejak bencana.
Kondisi masjid yang sempit justru menghadirkan suasana ibadah yang lebih bermakna dan memperkuat keimanan masyarakat.
Keterbatasan yang ada tidak menghalangi semangat warga untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan dan membangun kembali harapan bersama.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







