
Pantau - Guru Besar PTIQ Jakarta Prof Susanto menyebut Lebaran dapat menjadi momentum penting untuk mendidik mental anak agar lebih tangguh, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Jumat, menyoroti peran orang tua dalam memanfaatkan momen Idul Fitri untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak.
Ajarkan Maaf, Empati, dan Pengendalian Diri
Susanto menekankan pentingnya membiasakan anak untuk meminta dan memberi maaf secara tulus, bukan sekadar formalitas.
Ia mengatakan, "Salah satu pembiasaan utama adalah mengajarkan anak untuk meminta dan memberi maaf dengan tulus. Tidak sekadar mengucapkan kata 'maaf', tetapi juga memahami maknanya."
Selain itu, ia menilai keterlibatan anak dalam kegiatan berbagi seperti zakat dan sedekah dapat menumbuhkan empati serta mengurangi sikap egois.
Susanto juga mengingatkan pentingnya melatih pengendalian diri di tengah suasana Lebaran yang identik dengan hadiah dan kesenangan.
Ia menyampaikan, "Inilah fondasi penting dari mental tangguh, mampu mengelola keinginan, bukan dikuasai oleh keinginan."
Silaturahmi dan Konsistensi Ibadah Bentuk Karakter
Menurutnya, tradisi silaturahmi saat Lebaran turut membantu anak belajar sopan santun, percaya diri, serta kemampuan sosial.
Ia mengungkapkan, "Dari sini tumbuh rasa percaya diri sekaligus kemampuan sosial yang baik. Nilai adab seperti ini sangat ditekankan dalam ajaran Al Quran dan Hadist sebagai bagian dari akhlak mulia."
Selain itu, orang tua juga perlu menanamkan sikap sederhana, rasa syukur, serta mengajak anak melakukan refleksi setelah Ramadhan.
Ia menegaskan, "Proses ini akan melatih anak menjadi pribadi yang mau belajar dari pengalaman."
Susanto menambahkan bahwa konsistensi ibadah setelah Lebaran menjadi kunci dalam membentuk karakter anak yang kuat.
Ia mengatakan, "Ketika anak tetap dibiasakan menjalankan ibadah secara rutin, mereka belajar tentang Istiqomah, sebuah kekuatan karakter yang sangat penting dalam kehidupan."
Sebagai tambahan, ia menilai pembiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadikan Lebaran tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga sarana efektif pendidikan mental anak.
- Penulis :
- Aditya Yohan








