Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Tradisi Injak Bumi Warnai Lebaran di Jambi Seberang, Doakan Bayi agar Tumbuh Berkah dan Terlindungi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Tradisi Injak Bumi Warnai Lebaran di Jambi Seberang, Doakan Bayi agar Tumbuh Berkah dan Terlindungi
Foto: Tokoh agama di Kelurahan Arab Melayu Jambi tengah membacakan doa-doa kebaikan dalam ritual adat "Injak Bumi" kepada seorang bayi usai Shalat Idul Fitri di halaman Masjid Jami Ba'alawi Kota Jambi Seberang, Sabtu 21/3/2026 (sumber: ANTARA/Agus Suprayitno)

Pantau - Tradisi “Injak Bumi” kembali dilaksanakan masyarakat Melayu Jambi usai Shalat Idul Fitri di halaman Masjid Jami Ba’alawi, Kota Jambi Seberang, sebagai ritual doa bagi bayi yang sedang belajar berjalan agar mendapatkan perlindungan dan keberkahan.

Prosesi Ritual dan Makna Spiritual

Ritual ini dilakukan dengan menyerahkan bayi dari orang tua kepada tokoh agama untuk didoakan secara khusus.

Tokoh agama kemudian mengusap tubuh dan kepala bayi sambil melantunkan doa secara lirih.

Doa yang dibacakan antara lain "A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq." dan "Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissama’i wahuwas sami’ul ‘alim.", ungkapnya.

Setelah itu, bayi diturunkan untuk menyentuh tanah sebagai simbol pertama kali menginjak bumi sebelum dikembalikan ke pelukan orang tua.

Orang tua kemudian menaburkan bunga dan uang logam ke udara yang disambut antusias oleh anak-anak di sekitar lokasi.

Tokoh agama menegaskan "Intinya hanya itu, kita berusaha menjauhkan diri dari gangguan-gangguan gaib,".

Makna doa tersebut adalah memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, iblis, dan bahaya lainnya saat seseorang mulai mengenal lingkungan baru.

Tradisi Turun-Temurun dan Nilai Budaya

Tradisi ini telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka, ketika kawasan Jambi Seberang mulai dihuni pribumi dan keturunan Arab.

Seorang warga menyatakan "Jauh sebelum Indonesia merdeka, atau tepatnya sejak kawasan Jambi Kota Seberang mulai dihuni oleh sekelompok pribumi asli Jambi dan pendatang keturunan Arab, tradisi ini sudah hidup,".

Ia juga menambahkan "Sejak nenek moyang saya tinggal di sini, tradisi injak bumi sudah ada. Bahkan saya sendiri pernah melalui tahapan ini, dan kini giliran anak saya,".

Seorang ibu menyampaikan "Ini (Arsyad) anak keempat saya. Rasanya ada yang kurang jika tidak ikut ritual seperti ini. Saya ingin anak saya didoakan,".

Tradisi ini menjadi warisan turun-temurun yang mencerminkan akulturasi nilai Islam dan budaya lokal Melayu Jambi.

Masyarakat setempat dikenal menjunjung tinggi adab, sopan santun, serta nilai kekeluargaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan yang disampaikan antara lain "Di tepian Batanghari, dakwah pernah tumbuh dengan santun, dan ilmu berkembang dengan adab. Untuk itu, jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya mewarisi tanah, tetapi kehilangan tuntunan,".

Selain itu, disampaikan pula "Jangan sampai kita membangun rumah megah, tetapi justru merobohkan akhlak,".

Nilai keluarga juga ditekankan melalui pernyataan "Keluarga adalah tiang negeri. Jika rumah tangga rapuh, maka runtuhlah masyarakat,".

Pendidikan anak dianjurkan mengutamakan adab dan agama sebagaimana pesan "Ajarkan adab sebelum ilmu, tanamkan rasa malu sebelum bangga,".

Penutup menegaskan "Kekuatan keluarga Melayu terletak pada paduan agama, adat, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama,".

Penulis :
Leon Weldrick