Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Normalisasi Sungai di Tiga Provinsi Sumatera Jadi Prioritas Utama Pemulihan Pascabencana

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Normalisasi Sungai di Tiga Provinsi Sumatera Jadi Prioritas Utama Pemulihan Pascabencana
Foto: Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan keterangan seputar arahan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda Rapat Pimpinan TNI-Polri di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 9/2/2026 (sumber: ANTARA/Andi Firdaus)

Pantau - Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menetapkan normalisasi sungai di tiga provinsi sebagai prioritas utama penanganan jangka panjang dalam fase pemulihan.

Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menyatakan sungai memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian dan perikanan.

Ia mengungkapkan, "Sungai memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian dan perikanan."

Data Satgas PRR menunjukkan sebagian besar sungai terdampak bencana hidrometeorologi mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.

Tito menyampaikan bahwa jumlah sungai yang harus ditangani sangat banyak dengan kondisi sedimentasi yang beragam serta dimensi panjang dan lebar yang berbeda-beda.

Ia menegaskan bahwa penanganan sungai bersifat mendesak karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan sawah dan tambak warga.

Sebaran Sungai Terdampak di Tiga Provinsi

Kondisi sungai di wilayah terdampak meliputi sedimentasi berat, kerusakan tanggul, hingga perubahan alur sungai.

Di Provinsi Aceh terdapat 55 sungai terdampak yang tersebar di Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tenggara, dan Subulussalam.

Di Provinsi Sumatera Utara terdapat 48 sungai terdampak yang tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Sibolga, Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Mandailing Natal, dan Batu Bara.

Di Provinsi Sumatera Barat terdapat 43 sungai terdampak yang tersebar di Padang, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Solok, Tanah Datar, Agam, dan Pesisir Selatan.

Strategi Penanganan dan Tantangan Lapangan

Penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan yaitu tanggap darurat untuk mencegah dampak lanjutan serta rehabilitasi dan rekonstruksi untuk perbaikan permanen.

Tito menjelaskan bahwa tantangan utama dalam penanganan adalah kondisi geografis yang tersebar dan tidak terpusat sehingga membutuhkan waktu lebih lama.

Ia mengungkapkan, "Wilayah yang dekat dengan sungai umumnya terdampak sehingga penanganannya bersifat sporadis dan tersebar."

Satgas PRR memastikan penanganan sungai tetap berjalan paralel dengan pemulihan sektor lain.

Infrastruktur jalan nasional di wilayah terdampak telah kembali berfungsi 100 persen sehingga distribusi logistik tidak lagi terhambat.

Kondisi tersebut mendukung percepatan perbaikan sungai di berbagai wilayah.

Pemerintah mengintegrasikan penanganan sungai dengan pemulihan sektor pertanian, tambak, dan hunian masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai.

Tito menegaskan bahwa indikator pemulihan pascabencana tidak hanya jumlah pengungsi tetapi juga kondisi sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya.

Ia menyampaikan, “Seluruh aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan wilayah kembali aman dan produktif.”

Penulis :
Shila Glorya