
Pantau - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengenang almarhum Juwono Sudarsono sebagai sosok yang mampu menyatukan pandangan militer dan sipil pada masa Reformasi 1998.
Susilo Bambang Yudhoyono menyebut Juwono memiliki kesamaan pandangan dengannya saat mendorong TNI kembali ke jati sebagai kekuatan pertahanan profesional.
"Ketika saya mengemban tugas waktu itu 1998 di era reformasi agar TNI kembali ke jati dirinya, tidak berpolitik praktis, tetapi sebagai kekuatan pertahanan yang diandalkan, Mas Juwono memiliki pandangan yang sama," ungkapnya.
Menurut SBY, Juwono merupakan pemikir dari Universitas Indonesia dengan gagasan cemerlang di bidang hubungan internasional dan pertahanan.
Ia mengaku telah mengenal Juwono sejak masih menjadi perwira muda di Sekolah Staf dan Komando TNI AD.
Hubungan keduanya berkembang melalui diskusi dan komunikasi intens sejak awal perkenalan.
Kesamaan pandangan tersebut membuat SBY mengajak Juwono menjadi Menteri Pertahanan saat dirinya menjabat Presiden.
Dalam masa pemerintahan, keduanya berkolaborasi dalam memodernisasi sektor pertahanan Indonesia.
Pengembangan alat utama sistem persenjataan menjadi salah satu fokus utama.
Indonesia juga diarahkan untuk meningkatkan kekuatan militer di tingkat ASEAN.
Juwono turut berperan dalam pengembangan misi perdamaian untuk menghadapi krisis dalam dan luar negeri.
"Dan kami tentu sangat terbantu, karena bagi saya waktu itu pertahanan dan diplomasi sama-sama pentingnya," ujarnya.
SBY menegaskan bahwa pertahanan dan diplomasi merupakan dua aspek yang saling melengkapi.
"Mas Juwono memiliki dua karakter, punya dua kemampuan di bidang pertahanan maupun hubungan internasional," katanya.
Ia menilai Juwono memiliki kombinasi kemampuan strategis di bidang pertahanan dan diplomasi internasional.
Kepergian Juwono Sudarsono menjadi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya di bidang pertahanan dan akademik.
- Penulis :
- Gerry Eka








