
Pantau - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengajak masyarakat memanfaatkan biopori sebagai langkah pencegahan banjir terutama di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.
Upaya Cegah Banjir Lewat Biopori
Ajakan tersebut disampaikan saat penyerahan bantuan unit biopori dan alat pembuat lubang biopori kepada 10 desa di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dalam rangka peringatan Hari Air Sedunia pada Minggu.
“Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan air mengingat wilayah hulu DAS Ciliwung berperan penting dalam mengendalikan aliran air ke wilayah hilir termasuk Jakarta.
Bantuan Biopori dan Edukasi Lingkungan
Sebanyak 50 unit biopori diberikan untuk masing-masing desa sebagai upaya meningkatkan resapan air dan mengurangi potensi genangan.
Diaz juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sumber air seperti sungai dan danau.
“Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kelebihan air juga dapat memicu banjir sehingga diperlukan keseimbangan antara air masuk dan keluar melalui upaya seperti biopori.
“Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar,” tambahnya.
Selain bantuan biopori, Kementerian Lingkungan Hidup juga menyalurkan bibit pohon, perahu karet, serta melakukan penanaman 1.500 pohon dan pembangunan sumur resapan di kawasan Agrowisata Gunung Mas.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








