
Pantau - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti tingginya angka kejadian bencana alam yang mencapai 693 peristiwa sejak awal 2026 sebagai tanda masyarakat masih rentan dan penanganannya belum sistematis.
Frekuensi Bencana Tinggi Jadi Alarm Nasional
Puan menyatakan tingginya frekuensi bencana yang terjadi dalam waktu berdekatan menunjukkan kompleksitas risiko kebencanaan di Indonesia.
“Dengan masih banyaknya bencana alam, terutama bencana yang berulang, hal ini harus dilihat sebagai bentuk kerentanan rakyat terhadap bencana alam yang belum banyak bergeser, dan harus segera mendapat solusi,” ungkap Puan.
Ia menilai dominasi bencana seperti banjir, angin kencang, longsor, dan gempa tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena musiman semata.
“Ketika banjir mendominasi, disusul angin kencang, longsor, dan gempa di berbagai daerah dalam kurun yang berdekatan, persoalannya tidak lagi cukup dipahami sebagai peristiwa musiman,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan masih banyak wilayah yang berada dalam kondisi rentan terhadap bencana berulang.
Perlu Pendekatan Sistematis dan Antisipatif
Puan menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya respons pascabencana, tetapi kemampuan negara membaca pola kerentanan.
“Tantangan terbesar bukan hanya bagaimana negara bergerak setelah kejadian, tetapi bagaimana sistem nasional mampu membaca pola kerentanan yang berulang,” katanya.
Ia juga mengingatkan dampak bencana tidak hanya fisik, tetapi menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat.
“Bencana bukan lagi sekadar urusan kerusakan fisik, tetapi sudah menyentuh kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Puan menilai data kebencanaan harus menjadi dasar evaluasi kebijakan, terutama bagi daerah rawan.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino pada musim kemarau mendatang.
“Tantangan perubahan iklim menuntut cara kerja negara yang lebih responsif terhadap risiko. Tidak ada alasan kebijakan bergerak setelah dampak meluas,” ujarnya.
Informasi tambahan, Puan menegaskan masyarakat membutuhkan kehadiran negara sejak sebelum risiko membesar, bukan setelah bencana terjadi.
- Penulis :
- Aditya Yohan








