
Pantau - Komisi VI DPR RI menilai industri petrokimia dalam negeri dapat menjadi solusi untuk menahan kenaikan harga plastik akibat gangguan rantai pasok global, Kamis (9/4/2026).
Dampak Konflik Global terhadap Harga Plastik
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyatakan kenaikan harga plastik di Indonesia dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku impor.
“Kita juga punya industri petrokimia dalam negeri, bagaimana industri ini bisa mendukung dan menopang supaya harga plastik tidak terlalu melonjak,” ujarnya di Padang, Sumatera Barat.
Ia menjelaskan eskalasi konflik, termasuk penutupan Selat Hormuz, berdampak pada distribusi energi global dan pasokan nafta sebagai bahan baku utama plastik.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan efek domino terhadap industri petrokimia di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dorongan Kebijakan dan Respons Pemerintah
Komisi VI DPR RI juga meminta Menteri Perdagangan untuk segera mengambil langkah konkret dalam menekan kenaikan harga plastik di dalam negeri.
“Pemerintah saat ini sedang melakukan kajian menyikapi kenaikan harga plastik ini,” kata Andre.
Ia menambahkan, meski banyak negara telah menaikkan harga bahan bakar minyak, Indonesia hingga kini masih mampu menahan kenaikan tersebut.
“Ini juga menjadi bukti pemerintah bekerja keras untuk masyarakat dan menghadapi permasalahan yang ada,” ungkapnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah menyiapkan langkah strategis, termasuk diversifikasi bahan baku dan pemanfaatan daur ulang, guna menjaga stabilitas pasokan plastik nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








