HOME  ⁄  Nasional

Kemenpar Alihkan Strategi, Fokus Gaet Wisman Asia dan Oseania Imbas Konflik Timur Tengah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenpar Alihkan Strategi, Fokus Gaet Wisman Asia dan Oseania Imbas Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa (kedua kiri) di sela Dharma Santi Nyepi Kemenpar di Kampus Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (17/4/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.)

Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengalihkan strategi pemasaran dengan memfokuskan pangsa pasar wisatawan mancanegara (wisman) ke kawasan Asia dan Oseania untuk mengantisipasi dampak konflik di Timur Tengah.

Strategi Promosi dan Target Pasar Baru

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan langkah tersebut dilakukan dengan menggeser target pasar ke negara dengan durasi penerbangan pendek dan menengah.

“Kami shifting pasar ke Asia dan Oseania. Itu yang lebih kami sasar sekarang,” ujarnya.

Ia menjelaskan promosi difokuskan ke kawasan Asia Tenggara dan negara di Oseania seperti Australia, serta diperkuat dengan paket wisata kreatif termasuk penawaran harga khusus (bundling) dan digitalisasi promosi yang menyasar generasi muda.

Langkah ini diambil untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan asing di tengah gangguan perjalanan akibat konflik Timur Tengah yang berdampak pada jalur penerbangan dan harga energi global.

Dampak Konflik dan Data Kunjungan Wisman

Gangguan penerbangan terutama terjadi pada rute transit di kota-kota Timur Tengah seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha yang selama ini menjadi penghubung utama wisatawan dari Eropa dan Amerika Serikat.

Selain itu, eskalasi konflik turut memengaruhi harga minyak dunia akibat terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada 2025 mencapai 15,39 juta atau meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 6,95 juta wisatawan berkunjung ke Bali dengan Australia menjadi negara asal terbanyak mencapai 1,62 juta orang.

Penulis :
Ahmad Yusuf