
Pantau - Sosok guru Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Dewi Kartikaningrat, menjadi sorotan sebagai “Kartini tanpa tanda jasa” yang tetap mengajar anak-anak diaspora Indonesia di Malaysia di tengah perjuangannya melawan kanker payudara.
Dedikasi Mengajar di Tengah Ujian Penyakit
Dewi Kartikaningrat yang lahir di Yogyakarta pada 25 September 1971 dikenal sebagai guru bahasa Inggris yang mengabdikan diri untuk pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri.
Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik meski menghadapi kondisi kesehatan yang berat, dengan semangat untuk terus memberi manfaat bagi para siswa.
“Jadi saya ingin terus mengajar anak-anak, meninggalkan kenangan yang bagus. Saya tidak mau terpuruk di rumah hanya tidur do nothing. Jadi tetap mengajar,” ungkapnya.
Keteguhan Dewi dalam mengajar disebut mencerminkan nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan pendidikan di tengah keterbatasan.
Perjalanan Hidup dan Semangat Mengabdi
Dewi tumbuh di lingkungan keluarga pendidik dan menempuh pendidikan di bidang bahasa Inggris di IKIP Yogyakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Yogyakarta.
Sejak masa kuliah, ia telah aktif mengajar dengan membuka kursus bagi anak-anak di sekitar rumahnya, termasuk mereka yang tidak mampu membayar.
Ia bahkan menerima imbalan sederhana seperti makanan dari muridnya, yang justru semakin menguatkan tekadnya untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.
Pengabdiannya di SIKL juga diwarnai berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan hingga risiko yang dihadapi sebagai pengajar di luar negeri.
Kisah Dewi Kartikaningrat menjadi gambaran nyata semangat Kartini masa kini yang terus berjuang melalui pendidikan demi masa depan generasi bangsa.
- Penulis :
- Aditya Yohan








