HOME  ⁄  Nasional

Kementerian Kehutanan Gandeng BMKG Teken MoU Antisipasi Karhutla di Tengah Ancaman El Nino 2026

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kementerian Kehutanan Gandeng BMKG Teken MoU Antisipasi Karhutla di Tengah Ancaman El Nino 2026
Foto: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan penandatanganan MoU bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Rabu 22/4/2026 (sumber: Kemenhut RI)

Pantau - Kementerian Kehutanan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis sains di Jakarta, sebagai langkah antisipasi potensi fenomena El Nino pada 2026.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam upaya memperkuat sinergi menghadapi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal.

Kerja sama ini dilatarbelakangi prediksi kemunculan El Nino yang diperkirakan terjadi lebih cepat pada semester kedua, yakni Juni hingga Juli, dengan intensitas lemah hingga moderat.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih kering dan meningkatkan risiko terjadinya karhutla dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk tahun ini sudah disampaikan bahwa kemarau akan datang lebih cepat dari tahun lalu, dan akan berakhir lebih lambat, kemudian El Nino lemah sampai moderat artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu," ungkapnya.

Integrasi Data dan Penguatan SDM

Ruang lingkup kerja sama mencakup integrasi data meteorologi, klimatologi, dan kehutanan untuk mendukung analisis risiko berbasis sains secara lebih akurat.

Selain itu, kolaborasi ini juga meliputi penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi potensi bencana karhutla.

Raja Juli Antoni menilai BMKG memiliki peran penting dalam menekan angka karhutla melalui kemampuan prediksi cuaca yang lebih presisi.

"BMKG memerankan peran yang sangat penting untuk menurunkan angka karhutla. Dengan tadi memprediksi cuaca, presisi dengan lebih prediktif, termasuk prevensi atau pencegahan. Mencegah terjadinya karhutla itu jauh lebih baik ketimbang memadamkan ketika apinya sudah berkobar," ujarnya.

Modifikasi Cuaca dan Pemantauan Gambut

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebelum kebakaran terjadi, sebagai langkah antisipatif berbasis data.

Pemerintah memantau tinggi muka air tanah sebagai indikator risiko kebakaran, khususnya di wilayah gambut yang rentan terbakar.

Jika tinggi muka air tanah turun di bawah 40 sentimeter, maka OMC akan dilakukan untuk meningkatkan cadangan air di wilayah tersebut.

"OMC yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum apinya menyala. Sekarang sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita (lakukan) adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut. Kalau cadangan airnya cukup insya Allah tidak akan terjadi kebakaran," jelasnya.

Data menunjukkan tren penurunan luas karhutla dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi sekitar 350 ribu hektare pada tahun lalu sebagai hasil dari berbagai upaya pencegahan.

Penulis :
Leon Weldrick