
Pantau - Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, mengkritik rencana penutupan sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.
Ia menilai, kebijakan yang disampaikan oleh Kemendiktisaintek tersebut berpotensi mereduksi makna pendidikan menjadi sekadar penyedia tenaga kerja.
Menurutnya, pendidikan sejatinya merupakan proses holistik untuk membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya membekali keterampilan teknis.
“Pendidikan adalah proses menuntun potensi manusia agar mencapai martabat dan kebahagiaan setinggi-tingginya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/4/2026).
Ia menilai, perguruan tinggi memiliki peran strategis menjaga keberlanjutan ilmu, termasuk bidang yang belum memiliki nilai ekonomi langsung.
“Jika kampus hanya mengikuti logika industri, lanjutnya, maka berisiko melahirkan generasi yang terampil namun kurang reflektif, adaptif tetapi tidak visioner,” lanjutnya.
Didik juga menyoroti pentingnya ilmu dasar atau ilmu murni dalam menjaga kedaulatan intelektual bangsa.
“Negara yang meninggalkan ilmu dasar akan bergantung pada produk pengetahuan dari luar dan hanya menjadi konsumen teknologi,” tandasnya.
Sebelumnya, Sekjen Kemendiktisaintek, Badri, menyebut rencana ini bertujuan mengurangi ketimpangan antara lulusan dan kebutuhan industri.
- Penulis :
- Aditya Andreas







