
Pantau - Kerusakan tutupan pohon yang terus terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) memunculkan desakan untuk membangun kembali lanskap hijau melalui reboisasi dan pengelolaan pertanian berkelanjutan demi menjaga keseimbangan lingkungan serta mencegah bencana hidrometeorologi di masa depan.
Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah beredar video udara yang memperlihatkan hamparan perbukitan gundul di Kecamatan Soromandi dan Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, pada akhir Mei 2026.
Rekaman yang diunggah melalui akun Instagram @fahroerizki menunjukkan luasnya lahan tanpa vegetasi yang membentang di kawasan perbukitan, sementara pepohonan hanya tersisa di beberapa titik yang mengikuti aliran sungai.
NTB Kehilangan 110 Ribu Hektare Tutupan Pohon
Data Global Forest Watch menunjukkan NTB kehilangan sekitar 110 ribu hektare tutupan pohon sepanjang periode 2001 hingga 2025.
Luas kehilangan tersebut setara dengan 1.100 kilometer persegi atau sekitar 17 kali luas Kota Mataram.
Kerusakan tutupan pohon itu juga disebut telah melepaskan emisi karbon dioksida sebanyak 61 metrik ton.
Kabupaten Sumbawa menjadi wilayah dengan kehilangan tutupan pohon terbesar mencapai 36 ribu hektare.
Kabupaten Dompu menyusul dengan kehilangan sekitar 26 ribu hektare, sedangkan Kabupaten Bima mencapai 25 ribu hektare.
Menurut kajian tersebut, ekspansi budidaya jagung yang berkembang melalui program Pijar atau sapi, jagung, dan rumput laut sejak sekitar 15 tahun lalu menjadi salah satu faktor utama perubahan bentang alam di ketiga daerah tersebut.
Ancaman Lingkungan dan Pentingnya Reboisasi
Kehilangan tutupan pohon terus meningkat dari tahun ke tahun setelah 2010 dan mencapai puncaknya pada periode fenomena El Nino.
Pada 2014, luas kehilangan tutupan pohon tercatat sekitar 7,1 ribu hektare.
Angka tersebut meningkat menjadi 8,7 ribu hektare pada 2019 dan mencapai 9,9 ribu hektare pada 2023.
Musim kering berkepanjangan akibat El Nino membuat vegetasi lebih rentan terbakar dan mempercepat degradasi lingkungan.
Setiap kawasan perbukitan yang kehilangan tutupan hutan berpotensi mengurangi kemampuan alam dalam menyimpan air, menjaga kesuburan tanah, serta menahan ancaman banjir dan longsor.
Pembangunan ekonomi yang terus berlangsung dinilai perlu diselaraskan dengan upaya pelestarian lingkungan agar tidak membebani generasi mendatang.
Penanaman pohon dan pengembangan sistem pertanian yang terintegrasi dengan kehutanan atau agroforestri dipandang menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan kondisi ekologis di NTB.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti





