Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Olahraga

Kemenpora Tegaskan Komitmen Selesaikan Dualisme Kepengurusan Cabang Olahraga Demi Perlindungan Atlet

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kemenpora Tegaskan Komitmen Selesaikan Dualisme Kepengurusan Cabang Olahraga Demi Perlindungan Atlet
Foto: Menpora Erick Thohir menjawab pertanyaan wartawan, usai menyaksikan upacara pembukaan (opening ceremony) ASEAN Para Games 2025 Thailand, di 80th Birthday Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima, Selasa 20/1/2026 (sumber: NPC Indonesia)

Pantau - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan dualisme kepengurusan di sejumlah cabang olahraga yang dinilai merugikan para atlet.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI yang digelar di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa.

"Kami juga coba mendorong isu-isu sengketa di olahraga. Tidak mungkin kami membiarkan dualisme karena yang menjadi korban atlet", ungkapnya.

Dualisme di Beberapa Cabang Olahraga

Erick menjelaskan bahwa penyelesaian dualisme akan dilakukan dengan cara mengonsolidasi dua pihak yang bersengketa di masing-masing cabang olahraga.

Beberapa cabang olahraga yang disebut mengalami dualisme kepengurusan antara lain anggar, tenis meja, dan tinju.

Menurut Erick, keberadaan dua kepengurusan dalam satu cabang olahraga dapat mempersulit proses pembinaan dan partisipasi atlet dalam ajang resmi, sehingga merugikan masa depan prestasi olahraga nasional.

Syarat Kepemimpinan di Organisasi Olahraga

Dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir juga menekankan pentingnya peran ketua umum cabang olahraga yang tidak hanya fokus pada jabatan.

"Pada akhirnya itu jangan jadi posisi saja hingga mengorbankan atlet dan pelatihnya yang berprestasi", ia mengungkapkan.

Ia menekankan bahwa setiap ketua umum harus memiliki dedikasi nyata terhadap pembinaan dan pengembangan olahraga yang dipimpinnya.

"Saya juga menekankan kepada ketua cabor, yang pertama yaitu mereka suka olahraganya. Yang kedua mereka ada waktu untuk membinanya. Yang ketiga bisa cari duitnya", ujar Erick.

Erick menegaskan bahwa ketua umum organisasi olahraga harus dapat mencarikan anggaran, agar roda organisasi terus berjalan dan tidak mengandalkan pemerintah sepenuhnya.

Penulis :
Shila Glorya