HOME  ⁄  Pertambangan

ESDM Menegaskan Pembatasan Produksi Tambang Dilakukan untuk Menjaga Sumber Daya Alam

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

ESDM Menegaskan Pembatasan Produksi Tambang Dilakukan untuk Menjaga Sumber Daya Alam
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Kolam bekas tambang ilegal yang berdekatan dengan permukiman warga di Kelurahan Sambutan, Samarinda, Kaltim. ANTARA/HO-Dok Dinas ESDM Kaltim.)

Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan penurunan produksi sektor pertambangan dilakukan untuk menjaga sumber daya alam agar tidak dieksploitasi secara berlebihan, meski sektor tersebut tercatat mengalami kontraksi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

ESDM Jelaskan Alasan Penurunan Produksi Tambang

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan penurunan produksi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Ia mengungkapkan, "Kalau hanya berdasarkan produksi (komoditas tambang), kita memang turun. Tapi kan memang kita ada sumber daya alam jangan dihambur-hamburkan."

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas data BPS yang mencatat sektor pertambangan dan penggalian terkontraksi sebesar 1,64 persen, sementara hampir seluruh lapangan usaha lainnya mengalami pertumbuhan.

Tri menjelaskan penurunan terjadi dari sisi volume produksi, namun nilai ekonomi sektor tambang relatif tetap karena didukung kenaikan harga komoditas.

Ia mengungkapkan, "Tetapi kalau misalnya dari sisi nilai uangnya, itu hampir sama meski secara produksi kita turun. Kenapa? Karena secara harga itu naik."

Produksi Freeport Turun Akibat Longsor Tambang

Tri mengatakan penurunan produksi tembaga juga dipengaruhi turunnya produksi PT Freeport Indonesia setelah insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.

Ia mengungkapkan, "Jadi terkait dengan tembaga, memang karena produksi Freeport turun drastis, karena longsoran itu."

Pada semester I 2026, kapasitas produksi tambang GBC dilaporkan berada di kisaran 50 persen dari kapasitas normal.

Freeport memperkirakan kapasitas produksi meningkat menjadi 65 persen pada semester II 2026, mencapai 75 persen pada semester I 2027, dan kembali normal hingga 100 persen pada semester II 2027.

Penulis :
Aditya Yohan