
Pantau - Peneliti Universitas Jember (Unej) mengembangkan metode deteksi pemalsuan gambar digital berbasis konsep matematika magic square untuk mengidentifikasi manipulasi gambar secara akurat, pada 7 April 2026 di Jember, Jawa Timur.
Cara Kerja dan Inovasi Teknologi
Guru Besar Fakultas MIPA Unej Prof Kiswara Agung Santoso menjelaskan metode ini bekerja seperti tanda air tersembunyi yang mampu mendeteksi bagian gambar yang dimanipulasi.
"Metode itu bekerja seperti tanda air tersembunyi (watermark) yang dapat mendeteksi dan menunjukkan secara jelas bagian gambar yang telah dimanipulasi," ujarnya.
Teknik ini memanfaatkan konsep steganography dengan menyisipkan kode berbasis magic square berukuran 3x3 pada piksel gambar tanpa mengubah kualitas visual.
Setiap piksel dibagi menjadi blok kecil dan disematkan pola matematis yang berfungsi sebagai sidik jari digital untuk menjaga keaslian gambar.
Akurasi Tinggi dan Potensi Pemanfaatan
Saat gambar diperiksa, sistem akan mendeteksi perubahan sekecil apa pun dan menandai area manipulasi dengan warna putih.
"Secara kasat mata, perbedaan antara gambar asli dan gambar yang telah diberi pengaman hampir mustahil dibedakan oleh mata manusia," ungkapnya.
Metode ini mampu mendeteksi manipulasi ekstrem hingga perubahan satu piksel sekalipun dengan tingkat akurasi tinggi.
"Prinsipnya, setiap piksel dalam gambar saling berkaitan. Melalui konsep magic square, jumlah nilai pada baris, kolom, dan diagonal harus sama. Ketika ada bagian yang tidak memenuhi pola tersebut, di situlah indikasi manipulasi dapat ditemukan," jelasnya.
Inovasi ini telah dipublikasikan dalam konferensi internasional dan terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Pengembangan ini diharapkan dapat digunakan untuk mendeteksi pemalsuan dokumen penting seperti ijazah, sertifikat, hingga dokumen kepemilikan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








