
Pantau - Konsep Smart Port 4.0 yang diterapkan Estonia dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan dan menekan biaya logistik di Indonesia melalui sistem pelabuhan yang terintegrasi dan berbasis data.
Transformasi Pelabuhan Berbasis Teknologi
Konsep Smart Port 4.0 merupakan evolusi terbaru dalam manajemen pelabuhan yang mengintegrasikan data, infrastruktur, dan pengambilan keputusan secara real-time.
Model ini menggabungkan teknologi seperti otomatisasi, sensor, big data, kecerdasan buatan, serta sistem Single Window dan Just-in-Time untuk menyinkronkan seluruh rantai pasok pelabuhan.
Chief Business Development Officer Port of Tallinn Rene Pärt menjelaskan pihaknya telah menerapkan sistem identifikasi digital untuk kendaraan di pintu masuk pelabuhan.
Menurut dia, sistem tersebut memungkinkan kendaraan diarahkan secara otomatis tanpa perlu antre atau pemeriksaan manual.
Pendekatan ini membuat operasional pelabuhan menjadi lebih efisien dan mampu mengurangi waktu tunggu yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya biaya logistik.
Relevansi untuk Indonesia
Indonesia sendiri telah mulai mengadopsi konsep digitalisasi pelabuhan sejak 2021 melalui berbagai inovasi seperti Phinnisi, TOS Nusantara, dan PTOS-M.
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) juga mengembangkan sistem integrasi layanan melalui platform digital terpadu untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi.
Namun, model Estonia menunjukkan bahwa kunci utama bukan hanya pembangunan infrastruktur baru, melainkan integrasi sistem dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
Dengan penerapan Smart Port 4.0 secara optimal, Indonesia berpotensi meningkatkan daya saing logistik nasional sekaligus mengurangi kemacetan di kawasan pelabuhan.
- Penulis :
- Aditya Yohan








