
Pantau - Wakil Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia Eki Qushay Akhwan menyatakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan sekaligus peluang besar dalam dunia pengalihbahasaan, Minggu (19/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi China ASEAN di Xiamen University Malaysia.
"Kehadiran AI membawa tantangan sekaligus peluang yang sangat besar dalam pendidikan penerjemah. Tantangan utamanya adalah perubahan kompetensi yang dibutuhkan pasar," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan penerjemah kini tidak cukup hanya menguasai bahasa dan teknik konvensional.
Kemampuan teknologi seperti post editing, manajemen terminologi, literasi data, quality assurance, serta etika AI menjadi kompetensi penting.
Eki menambahkan bahwa kurikulum yang tidak adaptif berisiko menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi kebutuhan industri.
"Yang berubah bukan kebutuhan terhadap penerjemah, melainkan profil kompetensinya. Penerjemah masa depan perlu menjadi language professional yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi, bukan bersaing dengan teknologi," katanya.
Selain tantangan, AI juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam proses penerjemahan.
Teknologi ini membantu riset terminologi, menjaga konsistensi istilah, serta membuka model layanan baru seperti localization dan transcreation.
Dalam dunia pendidikan, AI dimanfaatkan untuk simulasi proyek, analisis kesalahan, dan pembelajaran yang lebih personal.
"Sebagai wakil dari Himpunan Penerjemah Indonesia, saya sangat berharap adanya kerja sama konkret dengan China-ASEAN Association of Translation, Interpreting and Communication untuk menghadapi tantangan AI secara kolaboratif," ujarnya.
Ia menekankan bahwa tantangan teknologi bersifat lintas negara sehingga membutuhkan kolaborasi regional.
"Tidak ada satu institusi atau satu negara yang dapat menjawab seluruh tantangan ini sendirian," katanya.
Enam prioritas kerja sama diusulkan, meliputi pengembangan kurikulum berbasis AI, pelatihan dosen dan praktisi, penelitian bersama, pertukaran tenaga ahli, penyusunan standar kompetensi regional, serta pengembangan sumber daya bahasa digital.
Aliansi penerjemahan China-ASEAN yang melibatkan lebih dari 10 lembaga dari berbagai negara menjadi langkah awal dalam menghadapi era kecerdasan buatan.
- Penulis :
- Gerry Eka








