Pantau Flash
Gedung Putih Pastikan Pilpres AS Tetap Digelar 3 November 2020
Ombudsman Soal Ganjil Genap: Waspadai Klaster Transportasi Publik
BPS: Inflasi Tahunan yang Terendah Sejak Mei 2000
Gibran Kantongi Dukungan Penuh Prabowo Subianto di Pilkada Solo
Update COVID-19 RI per 3 Agustus: 1.679 Kasus Baru, Total Positif 113.134

Mereka di Dunia yang Tidak Pernah Mendengar Apa Itu Virus Korona

Mereka di Dunia yang Tidak Pernah Mendengar Apa Itu Virus Korona Sepasang migran Ethiopia berjalan di Lac Assal, sebuah danau air asin sekitar 120 km barat ibu kota Djibouti, dalam perjalanan mereka ke kota pelabuhan Obock untuk naik perahu menyeberangi Teluk Aden. Somalia 2017. (Foto: Muse Mohammed/IOM)

Pantau.com - Virus korona telah menulari 12 juta orang dan membunuh lebih dari 540.000 orang di dunia, namun di beberapa tempat masih ada yang tidak mengetahui keberadaannya.

COVID-19 yang telah mengubah dunia selama enam bulan terakhir, membuat perjalanan internasional terhenti dan menjerumuskan ekonomi dunia ke jurang resesi. Tetapi ada sejumlah kelompok orang yang tak tahu adanya pandemi korona, meski mereka sendiri sangat rentan tertular.

Banyak migran Ethiopia belum pernah mendengar

Di Afrika, banyak migran Ethiopia melakukan perjalanan berbahaya melintasi bentang alam. Somalia hanyalah perhentian pertama sebelum mereka sampai ke Yaman, kemudian ke Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk mencari pekerjaan, seperti penuturan Carlotta Panchetti, pekerja dari Organisasi Migrasi Internasional (IOM) PBB di Mogadishu.

"Yang kami bicarakan di sini adalah migran muda, dengan jumlah persentase tinggi anak-anak tanpa pendamping atau perempuan yang bepergian sendiri yang benar-benar putus asa mencari peluang yang lebih baik," katanya, demikian dilansir ABC News, Sabtu (11/7/2020).

"Mereka bermigrasi dalam kondisi yang sangat mengerikan, jadi mereka hanya berjalan melalui padang pasir tanpa barang, hanya ditemani sebotol air bersama mereka."

Dia mengatakan, ketika IOM mulai mensurvei migran yang mereka temui untuk mengetahui apakah mereka tahu tentang virus korona, jumlahnya mengejutkan.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mendistribusikan materi IEC di Bossaso untuk meningkatkan kesadaran tentang migran tentang COVID. Foto diambil pada tahun 2020 di Somalia. (Foto: IOM)

Baca juga: PBB Umumkan Amerika Serikat Keluar dari WHO

Pada bulan Maret, ketika virus korona mulai menyebar melalui Somalia dan dinyatakan sebagai pandemi, 88 persen migran yang disurvei IOM belum pernah mendengar tentang virus ini.

Pada akhir Juni, kesadaran soal pandemi mulai ada, tetapi 49 persen masih tetap tidak menyadari jika virus korona sudah menjadi pandemi dunia. "Hampir setengah dari populasi yang kami jangkau dan survei masih belum pernah mendengar COVID-19," katanya.

"Ini karena kurangnya akses ke internet, ke informasi yang dapat diandalkan, dan dapat dihambat oleh hambatan bahasa."

Sekelompok migran Ethiopia berjalan menuju kota Burao di Somaliland. Migran yang datang dari Ethiopia biasanya transit kota Burao dalam perjalanan mereka ke kota pelabuhan Bossaso di mana mereka berharap bisa masuk ke salah satu perahu karet/kayu untuk menyeberangi Teluk Aden. Somalia 2020. (Foto: Muse Mohammed/IOM)

Ketika para migran diberi tahu tentang virus mematikan yang sangat menular ini, respon yang diterima Carlotta dari mereka rata-rata tidak percaya, terkejut, skeptis, takut, dan merasa tidak pasti. "Sekarang ada stigma tambahan bahwa [mereka] mungkin pembawa virus," katanya.

Berbicara dari sebuah kamp pengungsi internal, sebuah video yang dirilis IOM menampilkan seorang ibu dari enam anak asal Somalia, Halima Ibrahim Hassan.

Halima mengatakan IOM memberitahunya tentang virus korona pada akhir Maret dan menasihatinya tentang jarak sosial dan kebersihan tangan. "Kami sangat menghargai ini. Sesuai dengan nasihat itu, saya jadi sering mencuci tangan," katanya.

Dalam video lain, seorang pekerja IOM terlihat berjalan sambil berbagi nasihat kesehatan melalui megafon di kamp dan tempat penampungan sementara. "Virus ini tidak hanya menyerang orang non-Muslim, virus ini bisa menular ke semua manusia," katanya. "Penyakit ini hanya bisa dicegah melalui kebersihan."

IOM memberi tahu anggota masyarakat tentang COVID-19 di situs Weydow IDP di Mogadishu, Somalia, 2020. (Foto: Hamza Osman/IOM)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengingatkan infeksi COVID-19 telah menyebar di Afrika dengan jumlah orang yang tertular lebih dari setengah juta kasus dan 11.000 orang meninggal.

Di Ethiopia sendiri tercatat 6.000 kasus dan 100 kematian karena virus korona, sementara Somalia mencatat lebih dari 3.000 kasus dan setidaknya 90 orang telah meninggal dunia.

Juru bicara IOM Afrika, Yvonne Ndege menambahkan kebanyakan dari mereka rentan terhadap virus tersebut karena sering terpaksa tidur saling berdekatan satu sama lain dan rute migrasi yang mereka lalui memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan dan sanitasi.

"Kenyataannya adalah sebagian dari masyarakat yang paling rentan di dunia, yang cenderung tertular penyakit yang mematikan ini, malah tidak mengetahui bahwa virus ini eksis. Ini mengerikan," katanya.

Myanmar: warga 'buta dan tuli' terhadap virus korona

Beberapa pekerja kemanusiaan kepada Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International mengatakan pemadaman internet terlama di dunia di sejumlah kawasan Myanmar telah memutus akses ke informasi penting, termasuk tentang virus korona.

Sembilan kota di negara bagian Rakhine dan Chin telah terputus dari akses seluler sehingga berdampak pada sekitar 1 juta orang yang tinggal di zona konflik. "Myanmar telah mengalami pemadaman internet selama setahun. Beberapa warganya masih tidak tahu ada pandemi," kata wakil direktur HRW Asia, Phil Robertson di akun twitternya.

Ia mengatakan kepada ABC, mustahil untuk tahu berapa banyak orang di desa-desa di wilayah pemadaman internet itu yang tahu tentang virus korona, tapi ia memperkirakan ada puluhan ribu orang berada di kamp-kamp pengungsian yang seringkali merupakan inkubator ideal untuk penyebaran cepat penyakit.

"Hanya beberapa orang saja di kamp pengungsian yang mengetahui tentang COVID-19 ini," kata seorang pekerja kepada Amnesty International yang mengestimasi hanya 5 persen saja yang mengerti jika virus ini berbahaya.

Pemandangan lansekap pusat kota dengan pagoda kuno di latar belakang di Mrauk U, negara bagian Rakhine, Myanmar 28 Juni 2019. (Foto: Reuters/Ann Wang)

Baca juga: Presiden Brasil Jair Bolsonaro Positif COVID-19, Dulunya Sempat Meremehkan

Seorang warga dari Minbya menyampaikan kepada Amnesty International jika mereka tahu tentang COVID-19 dari TV, koran, dan siaran parabola ilegal, tetapi tidak memiliki akses yang termutakhir dari internet. "Saya khawatir karena di saat perang kami masih dapat bersembunyi di hutan, tapi kami jelas tidak bisa lari dan bersembunyi dari virus," katanya.

"Rasanya kami seperti buta dan tuli, dan tidak ada seorang pun yang melaporkan apa yang terjadi di Minbya."

Phil Robertson mengatakan, pemadaman internet telah didesain untuk membuat orang-orang di Rakhine dan komunitas internasional buta informasi tentang konflik yang terjadi di sana. "Pemerintah sudah berlaku tidak adil dengan memutus orang-orang ini dari informasi tentang wabah COVID-19."

Juru bicara pemerintah, Zaw Htay, mengatakan tidak bisa menerima pertanyaan dari media melalui sambungan telepon sebelum menutupnya. Ia juga tidak merespon lagi panggilan telepon maupun pesan yang dikirimkan kepadanya,

Angka penularan COVID-19 di Myanmar tercatat sangat rendah, dengan hanya 316 kasus dan 6 kematian. Tetapi ini menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk soal pengetesan dan kualitas sistem kesehatan.

Komunitas adat di Amazon, Brasil

Brasil telah menjadi salah satu negara yang paling terpukul di dunia akibat virus ini, di peringkat kedua setelah Amerika Serikat. Brasil mencatat lebih dari 1,6 juta kasus, termasuk Presiden Jair Bolsonaro, yang secara konsisten menyepelekan virus ini dan kini dinyatakan tertular virus korona.

Lebih dari 66.000 orang telah meninggal, dengan tingkat kematian masyarakat adat terpencil lebih tinggi diperkirakan jumlahnya lebih dari 400 kematian dan 12.000 kasus penularan.

Dalam foto 10 Mei 2020 ini, Pedro Henrique yang berusia 9 tahun berpose untuk sebuah foto berdiri di pintu masuk rumahnya di komunitas Park of Indigenous Nations di Manaus, Brasil, di tengah pandemi virus corona. (Foto: AP/Felipe Dana)

Tiago Amaral, penasehat internasional untuk Artikulasi Masyarakat Adat di Brasil (APIB) mengatakan di saat mayoritas dari 300 masyarakat adat Brasil terhubung ke media dan mengetahui wabah koronavirus, ada sekitar 107 kelompok masyarakat adat yang tidak memiliki kontak dengan dunia luar.

Kelompok-kelompok dengan kontak yang sangat terbatas atau nol itu tidak akan menyadari bahwa virus itu ada, katanya. "Mungkin beberapa dari mereka bahkan tidak tahu dan itu hal yang baik, karena mereka terisolasi," katanya.

Tiago mengatakan, beberapa kelompok "berhak merasa takut" melakukan kontak dan tinggal jauh di Amazon. Brasil sebenarnya memiliki undang-undang yang membantu melindungi cara hidup masyarakat adat, namun meningkatnya jumlah perampas tanah dan penebang di bawah Pemerintah sayap kanan membuat Amazon dalam risiko.

Dia menambahkan fokus utama kesehatan masyarakat adat adalah mencegah penyebaran penyakit ke wilayah adat. "Sudah jelas, sejak awal, bahwa Pemerintah Federal tidak akan menjadi sekutu untuk memerangi pandemi ini," katanya.

"Sangat jelas masyarakat adat harus menciptakan sarana bagi diri mereka sendiri untuk melindungi diri mereka sendiri."

Dia mengatakan kelompok-kelompok pejuang hak-hak masyarakat adat telah bersatu dan memetakan sebuah rencana untuk membangun pangkalan kesehatan darurat sederhana di zona-zona yang paling parah, selain juga melakukan kampanye dan mengumpulkan uang untuk peralatan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: