Pantau Flash
Blak-blakan Menkes: Pemerintah Tidak Ada Rencana untuk Subsidi Test PCR
Maluku Utara Diguncang Gempa 5,1 Magnitudo, Berpusat di Kedalaman 92 Km
Kabar Gembira! Menkes Buka Peluang Vaksinasi Usia 5-11 Tahun Dimulai Awal 2022
Polri Ringkus Komplotan Judi dan Pornografi Online, Raup Rp4,5 Miliar per Bulan
Kapolda Sumut Copot Kapolsek Kutalimbaru, Buntut Ulah Anak Buahnya Cabuli Istri Tahanan

Wafat Akibat COVID-19, Pemakaman Kepala Suku Amazon Diiringi Tarian

Wafat Akibat COVID-19, Pemakaman Kepala Suku Amazon Diiringi Tarian Seorang pemimpin komunitas pribumi Brazil mengikuti protes menentang penghancuran hutan Amazon, di luar kantor pusat European Commission di Brussels, Belgia, Selasa (5/11/2019).(Foto: Reuters/Francois Lenoir)

Pantau.com - Kepala suku Kokama, Messias Kokama (53 tahun), meninggal dunia di Kota Manaus, wilayah Amazon, Brazil, akibat komplikasi serta gangguan pernapasan yang disebabkan virus korona jenis baru atau COVID-19 pada Rabu, 13 Mei 2020.

Messias, dalam wasiatnya, meminta masyarakat untuk bernyanyi dan menari di pemakamannya sebagai bentuk ucapan selamat tinggal. Masyarakat suku Kokama dan pelayat yang menghadiri pemakaman menyanyikan lagu kebangsaan Brazil dengan Tikuna, salah satu dari 14 bahasa asli yang dipakai masyarakat pinggiran Manaus.

Manaus merupakan tempat tinggal bagi 2.500 keturunan dari 35 suku di Amazon, termasuk suku Kokama. "Kami kehilangan seorang kepala suku pemberani yang berjuang untuk membentuk model masyarakat adat dengan pendidikan dan layanan berkualitas, yang tidak kami dapatkan," kata Vanderlecia Ortega, seorang perawat pribumi yang sempat membantu merawat Messias hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit, dikutip Reuters, Jumat (15/5/2020).

Baca juga: Fakta Vietnam di Balik Predikat Nol Kematian Akibat Virus Korona

Lonjakan jumlah kasus virus korona menyebabkan rumah sakit-rumah sakit di Manaus dibanjiri pasien positif COVID-19. Pasien yang meninggal dimakamkan di kuburan khusus secara massal. Hanya dua kerabat yang diizinkan untuk menghadiri proses pemakaman pasien korona.

Namun, otoritas kota membuat pengecualian agar suku Kokama bisa berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir kepada Messias. Jenazah dan peti mati Messias disemayamkan terlebih dulu di sebuah sekolah yang belum selesai dibangun.

Semasa hidupnya, Messias terus memperjuangkan agar sekolah itu dibangun untuk sarana pendidikan bagi anak-anak suku Kokama. Setelah selesai dibangun, sekolah itu akan diberi nama Messias Kokama sebagai bentuk penghormatan.

Baca juga: WHO: Virus Korona Mungkin Tak Akan Pernah Hilang

Suku Kokama mendiami hutan hujan yang tersebar di Peru, Kolombia, dan Brazil. Sebagian anggota suku telah berpindah ke Manaus untuk mencari kehidupan yang lebih, seperti yang dilakukan Messias Kokama pada 22 tahun silam.

Tetapi, sebagian besar akhirnya hidup dalam kemiskinan di pinggiran Kota Manaus dan tidak banyak mendapatkan akses perawatan kesehatan publik.

"Terima kasih kepada Messias Kokama. Berkat dia, kita dapat mempertahankan budaya kita di sini," ujar perawat Vanda. "Kami akan terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya."

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: