Pantau Flash
Pemerintah Izinkan Shalat Idul Adha Digelar di Masjid di Luar Zona Merah dan Oranye
Wapres Sebut MUI Terapkan Moderasi dalam Fatwa Vaksin COVID-19
Pemerintah Anggarkan Rp2 Triliun untuk Bayar Utang ke Guru dan Dosen Agama
36 Pegawai Kedeputian Penindakan KPK Positif COVID-19
Pos Penyekatan di Jembatan Suramadu Resmi Ditiadakan

Fakta Vietnam di Balik Predikat Nol Kematian Akibat Virus Korona

Headline
Fakta Vietnam di Balik Predikat Nol Kematian Akibat Virus Korona Vietnam sudah melakukan berbagai pelonggaran sejak 21 April lalu. (Foto: Reuters/Kham via ABC News)

Pantau.com - Tidak ada kematian karena virus korona, mungkin inilah mimpi yang ingin dicapai oleh banyak negara, dari Amerika Serikat hingga Italia.

1. Meski berbatasan dengan China, kasus virus korona di Vietnam kurang dari 300
2.Para pakar mengatakan data virus korona di Vietnam dapat dipercaya
3. Vietnam melakukan banyak tes dan melacak warga yang pernah kontak dengan yang tertular

Melansir ABC News, Rabu (13/5/2020) di tengah saat penularan virus korona kembali meningkat di Singapura dan kasus baru terus muncul di negara ASEAN, seperti Indonesia, Vietnam malah mengalami keunikan tersendiri.

Dengan jumlah penduduk sekitar 90 juta orang, Vietnam memiliki luas daratan lebih dari 1.400 kilometer yang berbatasan dengan China, negara asal virus korona. Tapi Vietnam tidak mencatat satu pun kematian virus korona, yang mencenggangkan banyak pihak.

Sampai hari Senin 11 Mei lalu, pihak berwenang Vietnam melaporkan delapan pasien tambahan yang dinyatakan sembuh dari COVID-19.


Vietnam banyak mendapat pujian internasional dengan sampai sekarang belum ada laporan ada yang meninggal karena virus korona. (Foto: AP/Hau Dinh via ABC News)

Total jumlah warga yang sembuh 249 orang dari 288 kasus positif virus korona di Vietnam. Bandingkan dengan Malaysia yang sekarang memiliki 6.276 kasus atau Singapura dengan hanya 5,6 juta orang tapi mencatat 23.787 orang tertular virus korona.

"Australia banyak sekali memperhatikan Singapura, namun Singapura sekarang ini merupakan salah satu kegagalan terbesar di dunia," kata Mike Toole, pakar masalah penyakit menular di Burnet Institute di Melbourne .

"Vietnam dalam situasi yang berbeda. Saya kira ini merupakan keberhasilan luar biasa bagi negara sebesar itu."

Baca juga: Akan Ada Sertifikat Kekebalan bagi Pasien Sembuh COVID-19, Apa Lagi Ini?

Apa data Vietnam bisa dipercaya?


Warga Vietnam dari awal sudah serius mengikuti anjuran pemerintah untuk memperhatikan masalah korona dengan serius. (Foto: Reuters/Kham via ABC News)

Vietnam adalah negara otoriter yang hanya memiliki satu partai, Partai Komunis, yang selama ini dikenal tidak mau berbagi informasi dengan dunia internasional. Namun kebanyakan pakar mengatakan pihak berwenang Vietnam jujur dalam menyampaikan statisik mengenai virus korona.

Huong Le Thu, seorang analis di Strategic Policy Institute di Australia mengatakan kepada ABC bahwa organisasi internasional, para pakar masalah pandemi, bahkan duta besar Australia untuk Hanoi sudah menyampaikan keyakinan soal data yang ada.

Kantor berita Reuters mengatakan tidak ada satu pun dari 13 pusat pelayanan pemakaman di Hanoi yang melaporkan adanya peningkatan pemakaman di masa pandemi.

"Saya tidak melihat adanya hal yang mengkhawatirkan mengenai akurasi atau ketidakterbukaan soal jumlah," kata Sharon Kane, direktur Plan Internasional untuk Vietnam, sebuah NGO yang bergerak di bidang kesehatan publik.

"Ada kejujuran dalam pelaporan dan kesadaran dari pemerintah sejak awal Januari mengenai sumber daya yang terbatas bila terjadi pandemi, sehingga Vietnam mengambil tindakan segera untuk menguasai keadaan."

"Mereka tidak melihat ini sebagai flu biasa," kata Professor Toole . "Mereka menggambarkan gejala yang ada, mereka memberikan informasi dimana warga bisa melakukan tes."

Bergerak cepat dan tegas


Vietnam cermat dalam menggunakan sumber daya kesehatan yang terbatas di negeri itu. (Foto: Reuters/Kham via ABC News)

Kunci kesuksesan Vietnam adalah melakukan tes dengan strategis, aktif mencari orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan mereka yang dinyatakan positif.

Selain itu mereka juga menggelar kampanye informasi yang efektif. Paling penting lagi: semua dilakukan dengan cepat. "Dari awal, ini dipahami sebagai masalah yang sangat serius, virus yang bisa menyerang siapa saja," kata Dr Le Thu. "Tidak saja orang yang terkena, namun semua orang di sekeliling mereka."

Ketika muncul kasus virus korona pertama kalinya tanggal 22 Januari, Vietnam segera membentuk gugus tugas di tingkat kementerian.

Professor Toole mengatakan Vietnam "mungkin bertindak lebih cepat dibandingkan negara lain di dunia, kecuali China."

Tanggal 1 Februari, maskapai penerbangan Vietnam Airlines menghentikan seluruh penerbangan dari China, Hong Kong dan Taiwan. Perbatasan juga ditutup dan seluruh penerbangan internasional dihentikan 21 Maret.

Mereka yang kembali ke Vietnam juga harus menjalani karantina selama 14 hari dengan biaya karantina ditanggung Pemerintah Vietnam.

Di awal Maret, ilmuwan Vietnam sudah mengembangkan alat tes yang murah harganya. "Di saat itu, Amerika Serikat belum lagi memiliki tes yang efektif. Vietnam sudah memiliki tiga," kata Professor Toole .

Jumlah lab yang bisa melakukan pengetesan COVID-19 di Vietnam naik dari tiga di bulan Januari menjadi 112 di bulan April. Di akhir April, negeri itu sudah melakukan 260 ribu tes atau setara dengan 2.691 tes per satu juta penduduk.

Baca juga: Puan Maharani Ketok Palu Setujui Perppu 1/2020 Jadi Undang-Undang

Vietnam kembali membuka diri


Sekarang Vietnam meluncurkan kampanye agar warga melakukan perjalanan wisata di dalam negeri. (Foto: AP/Hau Dinh via ABC News)

Dalam sebulan, Vietnam tidak mencatat kasus baru, karenanya pusat bisnis dan tempat wisata akan dibuka kembali. Sekolah juga sudah aktif kembali dengan menerapkan menjaga jarak antara warga, suhu tubuh murid dicek setiap hari, serta pembagian 'hand sanitiser' bagi murid-murid.

Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam dengan jumlah penduduk 9 juta orang, kembali membuka jaringan transportasi bis pekan ini. Vietnam Airlines mengatakan akan membuka kembali semua penerbangan domestik di awal Juni.

Tempat wisata, seperti Moseleum Ho Chi Minh di Hanoi juga sudah dibuka lagi. Merasa sebagai rumahnya sendiri, sejumlah warga Australia di Indonesia ikut membantu warga lokal.

Pariwisata adalah bagian penting dari perekonomian Vietnam yang secara langsung mempekerjakan 750 ribu orang dan menyumbang 8 persen bagi PDB di tahun 2017. Sama seperti banyak negara lain, perekonomian Vietnam juga mengalami masalah besar karena virus korona, dengan pertumbuhan ekonomi di empat bulan pertama tahun 2020, hanya 3,8 persen, angka terendah dalam 10 tahun terakhir.

Pekan ini, pemerintah mulai meluncurkan kampanye berjudul "Perjalanan warga Vietnam di kawasan Vietnam", sebagai upaya mempromosikan pariwisata dalam negeri saat negeri itu mulai dibuka lagi. Sementara Vietnam terus memulangkan warganya dari luar negeri, ancaman virus korona ini dari luar tetap ada. "Resiko COVID-19 ini sekarang rendah dan itu adalah hal yang bagus," kata Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc minggu lalu. "Tetapi kita tetap harus waspada."

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: