Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Risma Beberkan Alasan Peningkatan Kasus Positif COVID-19 di Surabaya

Headline
Risma Beberkan Alasan Peningkatan Kasus Positif COVID-19 di Surabaya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyampaikan pemaparan saat Rapat Analisa Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) (Foto: Antara/Didik Suhartono)

Pantau.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjelaskan alasan tingginya angka kasus COVID-19 di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur dalam sehari pada Kamis 21 Mei 2020, mencapai 311 orang positif lantaran pemerintah kota setempat menggelar rapid test secara masif.

"Namun yang ingin saya sampaikan, kenaikan ini karena kita masif melakukan rapid test dan kemudian kalau reaktif ditindaklanjuti oleh swab," kata Wali Kota Risma saat rapat evaluasi pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bersama jajaran kepolisian dan TNI di Graha Sawunggaling, Surabaya, Jumat (22/5/2020).

Rapat koordinasi tersebut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Mohammad Fadil Imran, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah beserta Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Surabaya.

Berdasarkan laman lawancovid-19.surabaya.go.id, dalam sehari pada Kamis kemarin, ada kenaikan warga yang terkonfirmasi positif sebanyak 311 orang. Dari jumlah tersbut sebanyak 48 orang merupakan orang dengan risiko (ODR). Sehingga jumlah total warga positif COVID-19 di Surabaya mencapai 1.566 orang.

Baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Naik 634 Total Menjadi 20.796

Menurut Risma, sebanyak 48 warga berstatus ODR tersebut merupakan hasil rapid test yang selama ini digelar oleh Pemkot Surabaya secara massal di sejumlah lokasi. Terutama daerah yang terdapat warga menjadi penularan COVID-19.

"Kenapa kemudian kami bisa memantau siapa saja yang terkonfirmasi karena setelah kami membuat klaster, kemudian kami menghubungkan dengan data kependudukan. Misalnya yang ada di daerah Rungkut," katanya.

Risma mengatakan, situasi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, berbagai dukungan yang mengalir itu akan membantu wali kota perempuan pertama di Surabaya ini dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

"Dengan support ini saya percaya kita bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan tepat. Sering kali kita lakukan negosiasi atau upaya persuasif saat meminta mereka (warga yang terkonfirmasi) untuk ke rumah sakit," kata Risma.

Baca juga: Ini Tiga Klaster Pemicu Penyebaran Baru COVID-19 di Semarang

Selain itu, kata dia, telah dibuat rumah sakit darurat di Surabaya, salah satunya Asrama Haji Surabaya yang disulap menjadi ruang isolasi dan perawatan pasien. Hal ini, kata dia, dilakukan karena beberapa rumah sakit tidak menerima pasien anak-anak, sehingga diputuskan untuk diisolasi di tempat tersebut.

"Jadi satu keluarga dimasukkan ke sana. Mengingat rumah sakit tidak dapat menampung anak-anak. Kita juga kasih mainan," katanya.

Pada kesempatan itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Mohammad Fadil Imran mengatakan untuk mengatasi pandemi di Kota Surabaya, pihaknya bersama jajaran TNI mendukung penuh upaya pemerintah. Namun demikian, ia berharap, masyarakat bisa meningkatkan kedisiplinan. Baginya, disiplin adalah vaksin COVID-19.

"Ini lah cara kami untuk mendukung Bu Risma, kuncinya adalah disiplin. Mari kita sosialisasikan secara masif melalui kanal sosmed (sosial media) masing-masing. Disiplin adalah vaksin korona," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: