Pantau Flash
Alami Pneumonia Akibat Korona, Musisi jazz Ellis Marsalis Meninggal Dunia
WP KPK Tolak Wacana Pembebasan Napi Koruptor Dampak Pandemi Korona
Penanganan COVID-19 di Jakarta Disebut Lebih Baik dari Jabar dan Banten
PSI pada Jokowi: Mudik Harus Dilarang, Kalau Imbauan Saja Tak Akan Efektif
Update COVID-19 3 April: 1.986 Kasus Positif, 134 Sembuh, 181 Meninggal

Tepatkah Cara Indonesia Merespon Potensi Pandemi Virus Corona?

Headline
Tepatkah Cara Indonesia Merespon Potensi Pandemi Virus Corona? Cara Pemerintah RI merespon penyebaran Virus Corona diragukan oleh banyak negara, termasuk Arab Saudi yang kini memberlakukan larangan bagi warga Indonesia untuk menjalankan umrah. (Foto: via ABC News)

Pantau.com - WHO telah memperingatkan agar jangan sampai ada negara yang membuat "kesalahan fatal" dengan menganggap negaranya akan terhindar dari penyebaran virus corona. Lantas apa persiapan Indonesia?

"Tidak boleh ada negara yang berasumsi bahwa mereka tidak akan punya kasus. Asumsi ini jelas-jelas akan jadi kesalahan fatal," ujar Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa.

Dilansir dari ABC News, Sabtu (29/2/2020), WHO menyebutkan 459 kasus baru virus korona dilaporkan terjadi di 37 negara di luar China dalam 24 jam, hingga hari Rabu 26 Februari 2020. Dengan demikian, menurut data WHO, sampai saat ini tercatat hampir 80 ribu kasus infeksi di China dan 44 negara lainnya, yang telah menyebabkan lebih dari 2.700 kematian.

Dari jumlah tersebut, kasus infeksi yang terjadi di luar China berjumlah sekitar 3.500 kasus infeksi dan 54 kematian. Di saat negara lain kini sudah merespon peringatan WHO mengenai kemungkinan datangnya pandemi Virus Corona, Indonesia tampaknya masih percaya diri akan tetap imun.

Bahkan, sejumlah media di Indonesia melaporkan jika Pemerintahan Joko Widodo tampaknya lebih menaruh perhatian pada upaya "memerangi hoax" yang banyak beredar di media sosial pada awal-awal merebaknya virus ini.

Baca juga: Menlu Retno Kirim 23 Orang untuk Proses Evakuasi WNI dari Diamond Princess

Upaya menjaga sektor pariwisata


Sejumlah turis asal China di Bali mengatakan lebih memilih tinggal di Bali ketimbang pulang ke China, karena takut tertular virus korona. (Foto: Reuters)

Salah satu strategi yang diluncurkan Pemerintahan Jokowi untuk mengatasi dampak menyebarnya virus corona, terutama pada sektor pariwisata.

"Ada anggaran promosi sebesar Rp103 miliar, juga untuk kegiatan turisme Rp25 miliar," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

"Dan untuk influencer sebanyak Rp72 miliar," tambahnya, Selasa kemarin.

Tidak dijelaskan mengapa pemerintah RI mengalokasikan dana untuk para influencer, bukan lembaga resmi, dan apakah praktek seperti itu sudah lazim dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi.

Menko Airlangga menjelaskan, akan ada pula insentif bagi turis asing yang ingin berwisata ke Indonesia sebesar Rp 298,5 miliar yang dialokasikan untuk maskapai penerbangan serta Rp 98,5 miliar diskon untuk agen perjalanan.

Menurutnya, harga tiket pesawat untuk 10 destinasi wisata pun turut didiskon sebesar 20 persen selama 3 bulan ke depan,dengan nilai sekitar Rp 265,6 miliar. Berbagai langkah lainnya juga disiapkan untuk menjaga sektor pariwisata tetap bergerak yaitu diskon harga bahan bakar pesawat senilai Rp 265,5 miliar, dana alokasi khusus untuk 10 destinasi sebesar Rp 147,7 miliar, serta menghapuskan pajak hotel dan restoran di 10 destinasi.

Penghasilan pemerintah daerah yang terdampak dari berkurangnya turis juga akan ditanggung sekitar Rp 3,3 triliun.

Baca juga: Enggan Dievakuasi, 2 WNI ABK Diamond Princess Pilih Tetap Tinggal di Jepang

Apakah Indonesia lambat dalam merespon?


Mereka yang dikarantina di Natuna menjalani pemeriksaan dua kali sehari. (Foto: via ABC News)

Di tengah persiapan negara-negara lain menghadapi peringatan WHO tentang kemungkinan pandemi Virus Corona, Pemerintahan Jokowi jelas sekali lebih memberi perhatian pada aspek dampak ekonomi dari penyebaran virus ini.

Padahal, sebagai perbandingan, di Australia sejak hari Kamis 27 Februari, Pemerintahan PM Scott Morrison telah mengaktifkan status "Emergency Respons" terhadap penyebaran Virus korona.

Selain memperpanjang larangan perjalanan ke Australia bagi siapa saja yang pernah ke China daratan dalam 14 hari terakhir, Australia kini telah memasuki tahap emergensi.Sejak awal, Indonesia memberikan respon yang lambat menangani virus korona, misalnya lambat dalam memberlakukan larangan terbang dari China. 

Termasuk penerbangan langsung dari Wuhan ke Bali, padahal saat itu virus diketahui telah menyebar. Warga yang memiliki resiko tinggi tertular virus korona, seperti yang dipulangkan dari Wuhan juga dinyatakan "negatif", padahal banyak di antara mereka yang mengaku belum pernah dites.

Para pakar di berbagai negara pun mempertanyakan prosedur screening dan karantina di bandara-bandara Indonesia. Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pernah ditanya mengapa sampai kini belum ditemukan adanya kasus di Indonesia, ia menjawab, "semua berkat doa".

Meski demikian, Pemerintah Indonesia mengatakan akan tetap waspada dengan virus korona, walau belum ada yang dilaporkan terinfeksi.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: