Forgot Password Register

Headlines

5 Istilah Politik yang Memancing Kontroversi Jelang Pilpres 2019, Etiskah?

5 Istilah Politik yang Memancing Kontroversi Jelang Pilpres 2019, Etiskah? Joko Widodo dan Prabowo Subianto (Ilustrasi: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Para pelaku politik kerap menyampaikan pikiran, keluh kesah, hingga sindiran melalui komunikasi politik yang ia bangun. Namun tak jarang beberapa ungkapan maupun pernyataan yang dibangun dalam komunikasi politiknya banyak menuai kontroversi.

Setidaknya dalam beberapa waktu terakhir, istilah-istilah nyeleneh dari para politikus banyak yang menjadi polemik dan bahan perdebatan di antara dua kubu yang akan bertarung di Pilpres 2019 mendatang.

1. Anak Boncel

Ungkapan itu dilontarkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyouno saat menanggapi wacana memasangkan Prabowo Subianto dengan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk di Pilpres 2019. Menurutnya, AHY saat itu dinilai tak cocok mendampingi Prabowo lantaran minim pengalaman.

"Enggak mungkin (Prabowo-AHY) karena keduanya militer dengan militer. Prabowo dengan Gatot juga enggak mungkin. Paling bagus Prabowo-Anies,” ujar Arief.

"Jangan main-main ini mimpin negara, masa sama anak begitu. Misalnya Prabowo terpilih, AHY jadi cawapres lah gimana, masa anak boncel gitu ngurus negeri. Jadi ancur negeri ini,” pungkasnya.


2. Jenderal Kardus 

Istilah ini muncul dari mulut Wasekjen Partai Demokrat Andi Arif karena tak terima dengan keputusan Prabowo Subianto meminang Sandiaga Salahuddin Uno sebagai cawapresnya. 

Ketua umum Partai Gerindra tersebut dicibir karena diduga tergiur dengan sejumlah uang yang disodorkan oleh Sandi. Wakil Gubernur DKI Jakarta ini diisukan telah menyetor Rp500 miliar ke PAN dan PKS untuk menjadi calon wakil presiden Prabowo.

"Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp500 M menjadi pilihannya untuk cawapres," ujar Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief kepada wartawan, Rabu (8/8/2018).

"Di luar dugaan kami, ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar," kata Andi.

Dalam akun Twitternya, Andi juga menuding kegagalan koalisi Partai Demokrat dan Partai Gerindra akibat ulah mental Ketua Umum Gerindra yang berkualitas buruk.

"Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu ketum Partai Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk mengentertain PAN dan PKS," kata Andi lewat akun @AndiArief_.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More