Pantau Flash
Indonesia Pimpin Klasemen ASEAN School Games 2019
Marc Klok: Saya Jamin PSM Juara Piala Indonesia 2018-2019
Harga Cabai Merah Keriting Tembus Rp100.000 per Kilogram
Satu Anggota YONIF 755 Tertembak dalam Kontak Senjata di Nduga
Kevin/Marcus Tantang Hendra/Ahsan di Final Indonesia Open 2019

5R, Kiat Atasi Sampah Pribadi

5R, Kiat Atasi Sampah Pribadi Ilustrasi tempat sampah. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dengan menganalisa jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilik e-commerce peduli lingkungan Cleanomic, Denia Isetianti Permata, mengatakan tujuan utama gaya hidup minim sampah atau zero waste living adalah untuk meminimalisir penggunaan barang yang bisa menjadi sampah.

Dengan menelisik jenis sampah yang paling sering dihasilkan, seseorang dapat mulai memilih apa yang dapat dikurangi, karena dengan demikian, dapat dilihat berapa banyak dari sampah itu yang nantinya akan berakhir di TPA karena tidak dapat didaur ulang.

"Misalnya di kamar mandi, apa saja yang dipakai? Apakah sabun atau keperluan pribadi yang menggunakan kemasan plastik? Jadi mulai perhatikan dari apa yang kita hasilkan sehari-hari," kata Denia di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Tasya Kamila Jadikan Memilah Sampah Sebagai Gaya Hidup

Ia menjabarkan, ada lima kiat dalam mengurangi sampah pribadi, yang ia sebut sebagai 5R, yakni refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (gunakan kembali), recycle (daur ulang) dan rot (mengkomposkan).

"Untuk prinsip refuse atau menolak, coba untuk menolak barang-barang yang tidak dapat didaur ulang atau yang sifatnya sekali pakai. Jadi ditolak dulu dari awal sebelum datang ke kita, seperti menolak memakai sedotan plastik misalnya,” kata Denia.

Untuk reduce atau mengurangi, lanjutnya, pada dasarnya adalah untuk mengurangi penggunaan barang-barang yang tak ramah lingkungan.

Prinsip reuse dititikberatkan pada usaha untuk membeli atau menggunakan barang-barang yang dapat digunakan kembali.

"Untuk recycle dan rot apabila kita memang harus menggunakan barang yang sifatnya sekali pakai, kalau bisa pastikan bahannya dapat didaur ulang atau dikomposkan," jelas Denia.

Baca juga: Tanpa Sadar, Kebiasaan Kaka 'Slank' Bantu Bumi Kurangi Sampah Plastik

Denia meyakini bahwa salah satu penyebab orang belum tergerak untuk bergaya hidup minim sampah adalah karena tidak melihat sampah yang bertumpuk secara langsung.

“Kita tidak tinggal di dekat tempat pembuangan akhir. Jadi out of sight, out of mind,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau bagi siapa pun yang berniat untuk menjalani gaya hidup minim sampah agar membekali diri dengan edukasi seputar isu tersebut.

Riset dapat dilakukan dengan membaca artikel mengenai pakar zero waste living seperti Lauren Singer asal Amerika, ataupun mengenai isu-isu bahaya penumpukan sampah dan gambar yang menunjukkan kondisi tempat pembuangan akhir terdekat.

Dalam mengkampanyekan hidup minim sampah, Denia mengatakan bahwa salah satu faktor terpenting adalah konten edukasi.

“Mereka (masyarakat) harus paham kenapa ini penting. Kalau mereka sudah tahu, lalu kita juga harus kasih mereka akses untuk informasi bagaimana cara kurangi sampah dan kita berusaha mengemasnya dalam konsep yang simpel,” katanya.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Rifeni
Category
Ragam

Berita Terkait: