Forgot Password Register

Diduga Sakit Hati, Pria Ini Jebak Orang Lain Jadi Tersangka Teroris

Diduga Sakit Hati, Pria Ini Jebak Orang Lain Jadi Tersangka Teroris Arsalan Khawaja (kanan) ditangkap karena menjebak orang lain dalam rencana teror yang menarget mantan PM Malcolm Turnbull dan mantan Menlu Julie Bishop. (Foto:Facebook)

Pantau.com - Kepolisian New South Wales (NSW) Australia menangkap Arsalan Khawaja atas tuduhan menjebak orang lain sebagai perencana serangan teror terhadap mantan PM Malcolm Turnbull dan mantan Menlu Julie Bishop.

Arsalan (39) merupakan saudara seorang pemain kriket terkenal Usman Khawaja. Polisi mengatakan Arsalan ditahan bukan karena tuduhan akan melakukan serangan teror, melainkan karena menjebak Muhammad Nizamdeen dengan motif sakit hati akibat bertengkar soal perempuan.

Nizamdeen (25) kini telah kembali ke Srilanka setelah mendekam sebulan lebih dalam tahanan. Dalam persidangan pada Oktober lalu, polisi tidak dapat membuktikan Nizamdeen sebagai pemilik catatan rencana serangan teror.

Melansir ABC News, Selasa (4/12/2018), buku catatan yang kini jadi pusat penyidikan polisi ditemukan di kantor gedung perpustakaan Universitas NSW awal tahun ini. Di dalamnya, terdapat rencana untuk membunuh politisi Australia, serta menyerang Sydney Opera House dan Harbour Brigde.

Baca juga: WHO: Lebih dari 1 Miliar Penduduk Dunia Menderita Keterbatasan Fisik

Sejak awal Nizamdeen telah membantah segala tuduhan yang dituduhkan pada dirinya. Ia menuding penyelidikan polisi sebagai kekanak-kanakan, memalukan dan bias.

Asisten Komisaris Kepolisian NSW Mick Willing menyatakan polisi menyesalkan keadaan yang menyebabkan Nizamdeen menjadi tersangka dan harus mendekam sebulan lebih dalam tahanan. Tetapi, ia tetap bersikukuh membela tindakan polisi kepada mantan tersangka Nizamdeen, meski tuduhan terhadapnya tidak terbukti dalam persidangan.

"Kami akan menuntut dia (Arsalan) dengan tuduhan mengatur rencana dengan perhitungan, dengan motif sebagian karena sakit hati. Kami tidak boleh terlena karena ancaman teroris di negara ini sangat nyata. Bentuk kejahatan ini sering mengharuskan kita untuk campur tangan sejak dini," katanya.

Ketika ditanya apakah polisi akan meminta maaf kepada Nizamdeen, Willing mengaku tidak berwenang menjawab masalah tersebut mengingat proses hukum masih berjalan. Namun, Willing mengungkapkan polisi telah menawarkan untuk menanggung seluruh biaya peradilan Nizamdeen.

Baca juga: Wartawan ABC Ini Diusir saat Konferensi di Parlemen Australia, Ada Apa?

Nizamdeen sedang kuliah PhD sekaligus bekerja sebagai analis bisnis pada bagian TI Universitas NSW pada saat ditangkap polisi. Saat berbicara di Kolombo, Srilanka pada November lalu, Nizamdeen menyatakan tidak akan pernah kembali ke Australia karena kejadian yang menimpa dirinya itu telah menghancurkan masa depannya.

"Saya dinyatakan bersih dari segala tuduhan. Saya berharap media dan masyarakat Srilanka membantu memulihkan kehidupanku yang hancur," ujarnya.

Asisten Komisaris Kepolisian Federal Australia Ian McCartney menilai penyelidikan kasus ini cukup unik. Ia mengatakan kasus itu mengandung kompleksitas. Namun, ia menyatakan pihaknya mendukung para penyelidik dan keputusan yang mereka ambil pada saat menangkap Nizamdeen.

Willing mengatakan pihaknya sedang mengevaluasi penanganan yang mereka lakukan dalam kasus ini. Orang yang bertanggung jawab atas apa yang dialami Nizamdeen, yaitu orang yang merekayasa dokumen rencana serangan teror tersebut.

"Dengan pertimbangan proses hukum, tidak sepantasnya saya memberikan komentar. Saya mohon hargai privasi saya dan privasi keluarga saya," ujar Usman Khawaja saat ditemui di Stadion Adelaide Oval

Share :
Komentar :

Terkait

Read More