Pantau Flash
Jubir KPK: Tak Ada Ketentuan Pimpinan Harus Perwakilan Institusi Tertentu
JK Isyaratkan Gerindra Lebih Baik Jadi Oposisi Demi Keseimbangan
Unggul Head to Head dengan Li/Liu, Minions Ogah Pandang Remeh
Tolak Pinangan Barca dan PSG, De Ligt: Saya Mengagumi Juventus
Hingga Akhir 2019, Blok Masela Bisa Dongkrak Cadangan Migas 300 Persen

Greenland Jadi Eksportir Pasir Terbesar Jika Es Mencair, Bahaya atau Berkah?

Headline
Greenland Jadi Eksportir Pasir Terbesar Jika Es Mencair, Bahaya atau Berkah? Lapisan es di tenggara Pulau Greenland, 3 Agustus 2017 (Foto: AP)

Pantau.com - Para ilmuwan, Senin (11/2/2019), mengatakan, Greenland dapat menjadi eksportir pasir besar akibat mencairnya lapisan es di pulau itu dan larutnya sebagian besar endapan ke laut karena pemanasan global.

Penambangan pasir dan kerikil yang banyak digunakan dalam industri konstruksi dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk Pulau Greenland yang berjumlah 56 ribu jiwa. 

Greenland, yang terletak di antara Samudra Arktika dan Atlantik di Amerika Utara punya otonomi untuk mengatur pemerintahannya sendiri tapi tetap masuk kekuasaan Denmark. Pulau itu juga sangat bergantung pada subsidi dari Kopenhagen.

Baca juga: BPJT: Tol Gratis Sulit Dijalankan di Indonesia

Dengan menambang pasir, "Greenland dapat mengambil manfaat dari tantangan yang dibawa oleh perubahan iklim," tulis tim ilmuwan Denmark dan Amerika Serikat yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability.

​Studi baru tersebut berjudul "Janji dan Bahaya Eksploitasi Pasir di Greenland", membahas perihal Arktika yang harus menilai risiko penambangan pesisir pantai, terutama bagi industri perikanan.

Pemanasan global mengakibatkan mencairnya lapisan es di Greenland, yang memiliki jumlah volume air yang cukup untuk menaikkan permukaan laut global sekitar tujuh meter jika semuanya mencair, dan membawa lebih banyak pasir dan kerikil ke pesisir fjords. Fjord adalah teluk yang terbentuk karena lelehan gletser.

"Anda dapat menganggapnya (es yang mencair) sebagai keran yang mencurahkan sedimen ke pantai," kata ketua penulis Mette Bendixen, seorang peneliti di Institut Penelitian Arktik dan Alpen di Universitas Colorado.

Baca juga: Dear Bankir... Ini Jurus Agar Usahamu Tak Punah oleh Fintech

Permintaan pasir di seluruh dunia mencapai sekitar 9,55 miliar ton pada 2017 dengan nilai pasar $ 99,5 miliar (Rp1,4 triliun) dan diproyeksikan mencapai hampir $ 481 miliar (Rp6,7 triliun) pada 2100, didorong oleh meningkatnya permintaan dan kemungkinan kekurangan, kata studi tersebut. Hal itu berarti sebuah kesempatan langka bagi Greenland.

"Biasanya orang-orang Arktika adalah yang paling merasakan perubahan iklim dibanding yang lainnya – erosi pantai, lebih sedikitnya lapisan es yang tetap membeku di bawah tanah," kata Bendixen. 

"Ini adalah situasi yang unik karena mencairnya lapisan es.”

Baca juga: Mengintip Tarif Tol di Tabel Jasa Marga, Benarkan Paling Mahal se-ASEAN?

David Boertmann dari Universitas Aarhus yang tidak tergabung dalam studi ini, mengatakan sudah ada beberapa penambangan pasir lokal untuk industri konstruksi domestik di Greenland.

Kerugian untuk Greenland,yang umumnya juga terjadi pada proyek-proyek pertambangan lainnya di pulau itu mulai dari uranium hingga logam tanah jarang (rare earth mineral), termasuk jarak ke pasar di Eropa dan Amerika Utara, katanya.

Glasier Collins di Pulau King George telah berkurang dalam 10 tahun terakhir dan menunjukkan tanda-tanda kerentanan di Antartika, 2 Februari 2018.

"Saat ini itu adalah sumber daya yang murah tapi akan menjadi lebih mahal nantinya," kata Bendixen.

Sudi tersebut mengatakan bahwa pasir dan kerikil juga dapat digunakan di masa depan untuk memperkuat pantai dan garis pantai dari naiknya permukaan air laut, yang sebagian disebabkan oleh pencairan lapisan es di Greenland. 


Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Reuters
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: