Forgot Password Register

Headlines

Dear Bankir... Ini Jurus Agar Usahamu Tak Punah oleh Fintech

Dear Bankir... Ini Jurus Agar Usahamu Tak Punah oleh Fintech Ilustrasi mesin ATM. (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Pergeseran menuju perbankan digital di Indonesia akan terus berlanjut. Konsumen semakin terbuka terhadap saluran digital dan konsumen yang aktif secara digital membawa lebih banyak nilai ekonomi kepada bank.

Mengingat peluang untuk pertumbuhan yang cepat, persaingan baik di dalam maupun dari luar sektor perbankan akan semakin ketat. Bank harus melanjutkan upaya mereka, dan bergerak cepat untuk menarik pelanggan baru dan membangun loyalitas pada pelanggan mereka yang sudah ada.

Terkait hal tersebut, McKinsey menyoroti perubahan cepat saat ini menuju perbankan digital di Indonesia, dan menyajikan peluang bagi FinTechs dan inisiatif baru, serta bank-bank yang berkuasa untuk meningkatkan keterlibatan dan menambah nilai.

Baca juga: Konsumen Digital Banking Lebih Laris Jadi Ancaman untuk Bank Lawas?

"Membangun kemampuan digital baru untuk menangkap potensi pertumbuhan pelanggan Indonesia yang semakin digital, bank harus berinvestasi dalam kemampuan baru," ujar Partner McKinsey & Company Indonesia, Guillaume de Gantes, dalam jumpa pers yang digelar di kantor McKinsey Indonesia, Wisma GKBI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Untuk mengikuti laju perubahan yang cepat dalam lanskap perbankan saat ini kata dia, bank harus menjadi lebih gesit.  "Mereka harus fleksibel dan dinamis dalam menanggapi perubahan teknologi dan perilaku pelanggan," imbuhnya. 

Menurutnya, pelanggan digital membawa nilai bagi bank, tetapi mereka juga terbiasa dengan tingkat responsif yang tinggi, penyesuaian dan layanan yang mereka terima dari perusahaan digital asli.

"Untuk menarik dan memuaskan pelanggan ini, bank harus mengadopsi pola pikir yang berpusat pada pelanggan dan mendesain ulang perjalanan pelanggan," ungkapnya.

"Jadikan perbankan sebagai bagian dari kehidupan pelanggan karena digitalisasi terus menyebar di berbagai industri, batas-batas tradisional memudar, dan ekosistem muncul di tempatnya," imbuhnya.

Baca juga: Segera! Mobil Bisa 'Gilas' Tol Layang Jakarta-Cikampek

Selian itu juga kata Guillaume, saluran digital memberi bank akses ke data berharga tentang demografi pelanggan, penggunaan produk, dan perilaku kredit, tetapi informasi ini hanya berguna jika bank memiliki kemampuan analisis canggih untuk membuka wawasan dan nilai dari mereka.

"Dalam paradigma baru ini, bank-bank Indonesia mulai dengan kekuatan yang signifikan: kepercayaan pelanggan yang tinggi. Kami percaya bank-bank indonesia harus mulai mengintegrasikan dan memperluas penawaran mereka di kehidupan sehari-hari pelanggan," katanya. 

Untuk menciptakan ekosistem yang mulus yang meningkatkan kekakuan dan mendorong pertumbuhan kata dia, orkestrasi ekosistem yang membutuhkan keterampilan kolaborasi yang kuat.

"Karena bank akan perlu bekerja dengan perusahaan non-bank seperti fintechs atau penyedia layanan lainnya untuk memberikan nilai kepada pelanggan," imbuhnya. 

Baca juga: Dinobatkan Jadi Bapak Pariwisata oleh Pengusaha, Jokowi Malah Bilang Lucu

Perbankan juga disarankan memperkenalkan penawaran sederhana terlebih dahulu, bank dapat membuat pelanggan merasa nyaman dengan saluran digital sebelum mendorong mereka ke arah produk yang lebih kompleks yang memberikan nilai lebih.

"Menyediakan onramps digital sederhana untuk pelanggan. Sebagian besar konsumen Indonesia merasa saluran digital dan produk perbankan terlalu rumit," katanya. 

"Proses ini juga dapat melibatkan investasi dalam pendidikan keuangan pelanggan, yang juga dapat membangun kredibilitas, kepercayaan, dan loyalitas," pungkasnya.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More