Pantau Flash
Sainsbury Akan Stop Berjualan Kembang Api
Timnas Panahan 'Downgrade' Target Medali di SEA Games 2019
Pertumbuhan Ekonomi China di Kuartal ke-3 Meleset dari Ekspektasi
Kementan Dorong Penambahan Satu Juta Petani Milenials
Pemkab Bekasi Minta Proyek LRT Diperpanjang hingga Cikarang

Kanada Tunda Larangan Penggunaan Plastik hingga 2021

Kanada Tunda Larangan Penggunaan Plastik hingga 2021 Ilustrasi (Foto: Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Perdana Menteri Justin Trudeau menyatakan Kanada akan mulai melarang penggunaan plastik sekali pakai seperti sedotan, tas atau peralatan makan terhitung sejak awal 2021. Hal itu menjadi kontribusi Kanada dalam mengurangi produksi sampah non organik dan melindungi laut dunia.

Menurut pernyataan pemerintah, Kanada menunda penerapan larangan sampai tahun 2021 guna memberikan kesempatan kepada dunia sains guna menentukan bahan plastik mana saja yang buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Melansir ABC News, Rabu (12/6/2019), pengumuman PM Trudeau ini disampaikan lima bulan jelang pemilu yang salah satu isu utamanya yaitu perubahan iklim dan polusi.

"Secara jujur saya katakan, sebagai orangtua, sulit untuk menjelaskan hal ini kepada anak-anak saya," ujarnya.

"Bagaimana menjelaskan ikan hiu yang terdampar mati di banyak pantai di dunia, dan perut mereka penuh berisi sampah plastik," kata PM Trudeau.

Baca juga: Kacau! Sampah Plastik Ditemukan di Dasar Laut Palung Terdalam Dunia

"Sebagai orangtua, saat kita membawa anak-anak ke pantai, kita sampai harus mencari tempat yang tidak dikotori sedotan plastik atau botol, dan yang lain," tambahnya.

Tindakan yang dilakukan Kanada ini mengikuti jejak Parlemen Uni Eropa, yang sebelumnya menyetujui pelarangan penggunaan peralatan plastik sekali pakai pada tahun ini.

Kanada juga baru-baru ini terlibat kisruh dengan Filipina dan Malaysia mengenai pengiriman sampah dari Kanada ke kedua negara tersebut. Menurut pernyataan dari Pemerintah Kanada, hanya sekitar 10 persen penggunaan plastik di sana yang didaur ulang.

Selain itu, di tahun 2030 setiap warga di sana akan membuang sekitar USD11 miliar atau sekitar Rp110 triliun bahan plastik setiap tahunnya.

Reaksi pengusaha

Dalam reaksinya, sejumlah pengusaha mengatakan bisnis makanan seperti restoran akan sangat terpengaruh dengan larangan penggunaan plastik sekali pakai.

"Restoran akan paling terkena dampaknya. Namun biaya tambahan itu nantinya akan dibebankan ke konsumen juga," kata Claudio Fracassi, pemilik restoran Soup Guy Plus di ibukota Kanada Ottawa.

Restorannya mengunakan mangkok sup dari styrofoam dan peralatan makanan dari plastik dan sekarang berencana menggunakan produk dari kertas, yang katanya akan lebih mahal.

Baca juga: Terungkap, Hanya AS yang Tak Setuju Kerangka Hukum Soal Sampah Plastik

"Saya ingin menyelamatkan lingkungan. Saya melakukan daur ulang. Saya ingin lebih banyak produk non plastik, dan hal ini harus dilakukan oleh dunia industri," kata Fracassi.

Supermarket di Australia tahun lalu sudah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai. Beberapa negara bagian termasuk Australia Selatan dan ACT (Ibukota Canberra) sedang mempertimbangkan pelarangan penggunaan peralatan plastik sekali pakai seperti sedotan dan sendok garpu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: